
Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada pemain bola yang pergi dari klubnya seperti pegawai pindahan kecamatan. Salaman sebentar, foto seadanya, lalu hilang ditelan algoritma TikTok dan gosip transfer dengan angka selangit.
Tetapi ada juga pemain yang pergi seperti seseorang meninggalkan rumah masa kecilnya setelah separuh jiwanya tertinggal di ruang tamu. Muhammad Salah memilih jenis perpisahan yang kedua.
Ahad, 24 Mei 2026, stadion Anfield di kota Liverpool, Inggris bagian barat laut, tidak sekadar melepas seorang pemain sayap. Stadion tua yang dianggap “rumah suci” oleh pendukung Liverpool itu seperti sedang melepas sebagian ingatannya sendiri.
Yang paling menyentuh justru bukan gol. Bukan trofi. Bukan statistik. Melainkan seorang anak kecil bernama Makka.
Putri Salah itu dibiarkan berlari kecil di tengah lapangan hijau Anfield sambil menggiring bola. Ribuan penonton bersorak. Makka lalu menendang bola itu pelan ke gawang. Gol. Stadion bergemuruh seolah Liverpool baru saja juara dunia lagi.
Begitulah sepak bola bekerja. Kadang-kadang, tendangan paling sederhana justru menghasilkan air mata paling mahal.
Di akhir film dokumenter Farewell to the King yang dibuat Liverpool FC dan ditayangkan di hari yang sama, Salah dan keluarganya berfoto bersama di tengah lapangan. Mereka berlima berjongkok sambil tersenyum.
Istrinya tetap mengenakan jilbab dengan tenang, anggun, dan biasa saja. Tidak ada pidato ideologis. Tidak ada seminar toleransi. Tidak ada aktivis yang sibuk membawa spanduk sambil wajahnya lebih tegang daripada pengawas ujian matematika.
Tetapi pemandangan itu diam-diam jauh lebih kuat daripada seribu konferensi anti-islamofobia. Senyumnya, keluarganya, dan akhlaknya menjadi wajah Islam yang jauh lebih efektif daripada seribu seminar toleransi.
Dari Salah, jutaan orang Eropa melihat sendiri bahwa seorang Muslim bisa menjadi legenda sepak bola dunia tanpa kehilangan iman, keluarga, kesopanan, dan akhlak. Di situlah Salah menang bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai manusia.
Lalu datanglah kalimat Salah yang membuat jutaan fans Liverpool patah hati. “Saya menangis lebih banyak hari ini dibanding sepanjang hidup saya.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi justru di situlah kedahsyatannya. Dunia mengenal Salah sebagai mesin gol. Sebagai lelaki Mesir yang berlari di sayap seperti badai gurun yang sedang mengejar cicilan rumah. Sebagai wajah dingin yang menghukum kiper tanpa rasa iba.
Tiba-tiba manusia yang selama ini tampak seperti robot berotot itu berkata, “Di dalam, saya seperti bayi.” Dan kita pun sadar bahwa legenda ternyata juga bisa gemetar.
Film dokumenter itu sesungguhnya bukan film sepak bola biasa. Film itu lebih mirip autobiografi emosional seorang anak desa Mesir yang menaklukkan Eropa sambil tetap membawa wajah kampungnya.
Dalam dua hari, jutaan orang menontonnya. Mereka bukan sekadar ingin melihat kompilasi gol. Orang-orang sebenarnya sedang mencari jawaban atas satu pertanyaan penting: bagaimana rasanya menjadi sangat besar tanpa kehilangan hati?
Salah menjawabnya dengan sangat jujur. “Saya datang dari desa ke Kairo. Saya banyak berkorban.”
Kalimat itu terdengar sederhana sampai kita ingat bahwa sepak bola modern hari ini dipenuhi pemain muda yang baru bisa juggling tiga kali sudah memesan Lamborghini warna emas. Sementara Salah justru berbicara tentang perjalanan desa-Kairo, latihan tanpa henti, pengorbanan, tekanan, dan rasa takut gagal.
Ia bukan pangeran sepak bola sejak lahir. Ia bukan anak emas akademi elite Eropa. Ia dibentuk oleh perjalanan panjang, dingin malam, disiplin keras, dan rasa lapar untuk memperbaiki diri hari demi hari.
Mungkin itulah sebabnya ia begitu dicintai di Liverpool. Kota itu adalah kota pekerja dan pelabuhan. Kota yang keras. Kota yang tidak terlalu peduli seberapa mahal jam tangan Anda, selama kaus Anda basah oleh keringat.
“It’s not about talent.” Nah, di sinilah Salah menampar zaman modern dengan cara yang sopan: bakat penting, tetapi kerja keras jauh lebih menentukan. Ia seperti sedang menyindir generasi yang terlalu cepat menyerah pada nasib.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

1 hour ago
1

















































