Anak Ahmad Bahar Minta Perlindungan LPSK, Rumah Dijaga Kokam Muhammadiyah

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak penulis Ahmad Bahar, Ilma Sani Fitriana, meminta perlindungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Pasalnya, Ilma merasa tidak aman setelah diduga menjadi korban penyekapan yang dilakukan oleh Ketua Umum GRIB Jaya Hercules Rosario Marshal.

Kuasa hukum Ilma, Gufroni, mengatakan pihaknya telah mengadu ke LPSK agar bisa memberikan perlindungan. Apalagi, beredar informasi pihak GRIB Jaya akan kembali mendatangi rumah kliennya setelah Ilma melaporkan perkara penyekapan ke aparat kepolisian.

"Iya, sudah (ke LPSK). Kemarin kita sudah ke LPSK minta perlindungan hukum, perlindungan fisik, dan perlindungan psikologis," kata dia saat dihubungi Republika, Selasa (26/5/2026).

Ia menilai, saat ini Ilma dan ayahnya lebih banyak beraktivitas di rumah. Pasalnya, mereka masih mengalami trauma usai berurusan dengan pimpinan ormas itu. Keduanya juga masih takut untuk beraktivitas di luar rumah.

Ketua Bidang Riset dan Advokasi Lembaga Bantuan Hukum dan Advokasi Publik Pimpinan Pusat (LBH AP PP) Muhammadiyah itu juga telah menempatkan jajaran Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) di rumah Ahmad Bahar. Sejumlah aparat kepolisian juga disebut ikut melakukan pengamanan untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan.

"Insyaallah aman karena kan ini sudah dijaga oleh pihak kepolisian untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak, yang tidak diinginkan," kata dia.

Sebelumnya, Ilma mengaku dibawa oleh sejumlah anggota ormas GRIB Jaya pada Ahad (17/5/2026). Pasalnya, ia dituduh mengancam Hercules beserta istri dan orang terdekatnnya melalui pesan WhatsApp.

Ketika itu, orang-orang tersebut juga mencari ayahnya yang kerap membuat konten mengomentari berita terkini di Tiktok, termasuk soal perselisihan Hercules dan Amien Rais. "Pada saat dibawa itu, sebelum dibawa juga saya sudah bilang saya tidak mau ikut. Ya karena kan yang dicari Bapak, walaupun memang akun saya juga yang terbawa, tapi mereka tetap memaksa saya untuk ikut," kata dia di Kantor Komnas HAM, Kamis (21/5/2026).

Setelah lama terjadi perdebatan, perempuan berusia 33 tahun itu akhirnya menurut untuk ikut. Pasalnya, orang-orang itu mengancam akan lebih banyak orang yang datang ke rumahnya apabila tidak menurut. Ia juga diancam akan dibawa paksa apabila tetap menolak. Momen itu disebut disaksikan oleh ketua RW dan aparat setempat.

Sore itu, ia dibawa langsung ke markas GRIB Jaya di wilayah Jakarta Barat. Di tempat itu, ia dimimta menunggu kedatangan Hercules.

Setelah beberapa saat, Hercules akhirnya muncul juga. Ketika itu, pimpinan ormas tersebut langsung menanyakan alasan mengirimkan pesan ancaman kepadanya dan istrinya.

Ilma mengaku sudah menjelaskan bahwa ponselnya itu diretas. Ia juga mengaku tidak memiliki masalah dengan Hercules dan istrinya, termasuk ormas yang dipimpinnya itu.

"Saya bilang, 'Maaf Pak, bukan saya," tapi beliau tetap tidak percaya," kata Ilma.

Dalam momen itu, ia mengaku terus diancam oleh Hercules. Hercules juga disebut mengeluarkan banyak kata-kata yang tidak pantas di tengah banyak laki-laki yang mengelilinginya.

"Saya mau jawab juga sudah tidak bisa, kalau memang itu bukan saya yang mengirim ancaman-ancaman itu," ujar perempuan itu dengan suara bergetar.

Menurut dia, Hercules juga sempat menyuruhnya mencopot jilbab karena dianggap melakukan pengancaman terhadap istrinya. Bahkan, Hercules menyebut akan menelanjangi ayahnya dan menyuruhnya merekam aksi itu jika yang bersangkutan ada di hadapannya. 

"Kamu nih ya kalau misalnya Bapak kamu ada di sini sudah saya telanjangin Bapak kamu, nanti biar kamu yang videokan, cepat telepon Bapak kamu, minta dijemput sekarang sama Bapak kamu. Kalau Bapak kamu tidak datang sekarang kamu tidak akan bisa pulang dari sini," kata dia menirukan perkataan Hercules.

Setelahnya, Ilma menyebut mengeluarkan pistol. Hercules bahkan disebut menembakkan pistol itu sebanyak dua kali ke arah bawah.

"'Kamu lihat ini ya,' sambil tunjuk-tunjuk, 'saya pikir tidak akan sampai menembakkan' begitu kan, 'ini saya tembakan,' dor-dor dua kali dia tembakan," kata Ilma.

Menurut dia, perlakuan yang dialaminya itu sangat tidak adil. Padahal, ia sama sekali tidak bersalah. Ia pun tidak tahu siapa pihak yang meretas ponselnya tersebut.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|