Baterai EV Turun 13 Persen per Tahun, Ini Fakta dan Tipsnya

5 hours ago 4

Jumali

Jumali Minggu, 21 Juni 2026 22:07 WIB

Baterai EV Turun 13 Persen per Tahun, Ini Fakta dan Tipsnya

SPKLU Mobile dari PLN/Antara


Harianjogja.com, JOGJA— Bagi calon pembeli mobil listrik, satu pertanyaan yang kerap muncul adalah seberapa lama baterai kendaraan bisa bertahan. Kekhawatiran ini wajar, mengingat baterai merupakan komponen paling vital sekaligus paling mahal dalam kendaraan listrik.

Secara umum, baterai mobil listrik mengalami penurunan kapasitas rata-rata sekitar 1–3% per tahun. Artinya, dalam jangka waktu penggunaan beberapa tahun, performa baterai akan berkurang secara bertahap, bukan turun secara tiba-tiba. Tren ini juga terjadi di berbagai negara, termasuk di Asia Tenggara seperti Vietnam yang tengah mengalami lonjakan adopsi kendaraan listrik.

Di Vietnam, kendaraan listrik bahkan disebut telah menyumbang sekitar 30% dari total penjualan mobil baru sejak awal tahun, dan tren serupa mulai terlihat di Indonesia, baik untuk kebutuhan pribadi maupun armada transportasi.

Menurut pendiri EVSafe, penyedia solusi stasiun pengisian kendaraan listrik komunitas di Indonesia, Mahaendra Gofar, penurunan kinerja baterai merupakan hal yang normal dalam siklus penggunaan kendaraan listrik.

“Secara umum, penurunan kinerja baterai adalah hal normal, rata-rata sekitar 1–3% per tahun tergantung pada penggunaan dan kondisi kendaraan,” ujarnya dikutip Minggu (21/6/2026).

Ia menjelaskan, satu paket baterai mobil listrik terdiri dari ratusan hingga ribuan sel yang tidak semuanya mengalami degradasi dengan kecepatan yang sama. Perbedaan kondisi sel inilah yang membuat penurunan kapasitas terjadi secara bertahap.

Sejumlah studi dan data produsen kendaraan listrik juga menunjukkan pola serupa. Setelah sekitar lima tahun penggunaan, kapasitas baterai umumnya masih berada di kisaran 85–90%. Sementara dalam jangka 8–10 tahun, banyak kendaraan listrik masih mampu mempertahankan sekitar 70–80% kapasitas awalnya.

Penurunan ini berdampak langsung pada jarak tempuh kendaraan. Misalnya, mobil listrik dengan jarak tempuh awal 500 kilometer bisa berkurang menjadi sekitar 400 kilometer ketika kapasitas baterai turun ke 80%. Dampak lainnya termasuk waktu pengisian yang sedikit lebih lama serta penurunan performa akselerasi, meski biasanya berlangsung bertahap.

Beberapa faktor dapat mempercepat degradasi baterai, di antaranya penggunaan fast charging yang terlalu sering, kebiasaan mengisi daya hingga 100% atau membiarkan baterai kosong, suhu lingkungan yang tinggi, gaya berkendara agresif, hingga kurangnya perawatan sistem pendingin baterai.

Meski demikian, kendaraan listrik modern kini telah dilengkapi sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS) yang berfungsi menjaga suhu, menyeimbangkan sel, serta mengatur distribusi daya agar baterai tetap optimal. Teknologi ini membuat banyak kendaraan listrik tetap andal meski telah menempuh jarak lebih dari 200.000 kilometer.

Untuk memperpanjang usia baterai, pengguna disarankan menjaga level pengisian di kisaran 20–80%, membatasi penggunaan fast charging, menghindari parkir di bawah terik matahari langsung, serta berkendara dengan lebih halus.

Dengan perawatan yang tepat, degradasi baterai dapat diperlambat sehingga kendaraan listrik tetap efisien digunakan dalam jangka panjang. Meski tidak dapat dihindari sepenuhnya, penurunan kapasitas ini bukanlah hambatan utama untuk beralih ke kendaraan listrik, selama pengguna memahami cara merawatnya dengan benar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|