BRIN Dorong Standar Charger Motor Listrik, Ini Alasannya

6 hours ago 2

BRIN Dorong Standar Charger Motor Listrik, Ini Alasannya Pekerja memeriksa sepeda motor listrik Alva N3 usai penandatanganan naskah kerja sama penyediaan infrastruktur logistik berbasis sepeda motor listrik antara perusahaan otomotif Alva, Dash, dan Kalista di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (27/1 - 2026).

Harianjogja.com, JAKARTA — Upaya mempercepat adopsi kendaraan listrik roda dua di Indonesia terus didorong. Salah satunya melalui gagasan standardisasi steker dan soket pengisian daya yang dinilai krusial bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.

Kepala Pusat Riset Teknologi Kelistrikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eka Rahman Priandana, menilai belum adanya standar yang seragam menjadi salah satu hambatan utama dalam memperluas penggunaan motor listrik.

Infrastruktur Jadi Tantangan Utama

Menurut Eka, adopsi kendaraan listrik masih terkendala sejumlah faktor, mulai dari keterbatasan infrastruktur pengisian daya, mahalnya harga baterai, hingga kekhawatiran pengguna terhadap jarak tempuh atau range anxiety.

Di Indonesia, persoalan tersebut semakin kompleks karena investasi untuk stasiun pengisian cepat maupun penukaran baterai masih terbatas.

Model bisnis battery swapping yang mulai berkembang pun belum sepenuhnya efisien. Selain membutuhkan biaya besar, skema kerja sama dengan penyedia listrik juga dinilai masih menjadi tantangan tersendiri.

Standarisasi Jadi Kunci

Eka menegaskan, interoperabilitas atau kesesuaian antarperangkat menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Tanpa standar yang sama, pengembangan infrastruktur pengisian daya akan berjalan lambat.

Untuk itu, BRIN tengah menginisiasi penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait steker dan soket pengisian cepat untuk kendaraan listrik roda dua. Rancangan ini mengacu pada standar internasional, namun tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi di dalam negeri.

Dengan adanya standardisasi, diharapkan perangkat pengisian dari berbagai produsen dapat saling kompatibel, sehingga memudahkan pengguna sekaligus mendorong investasi di sektor ini.

Dorong Industri dan Inovasi

Selain meningkatkan kompatibilitas, penerapan standar juga diyakini mampu memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) serta membuka ruang inovasi bagi produsen kendaraan listrik.

Produsen tetap dapat mengembangkan teknologi baterai masing-masing tanpa harus terhambat oleh perbedaan sistem pengisian.

Kembangkan Teknologi Pengisian Cepat

BRIN juga telah mengembangkan prototipe stasiun pengisian cepat roda dua bernama SONIK R2. Teknologi ini memiliki kapasitas hingga 6,6 kW dan mampu memangkas waktu pengisian secara signifikan—bahkan sekitar 20 menit untuk baterai berbasis LiFePO4.

Sistem ini memanfaatkan teknologi electric vehicle charge controller (EVCC) yang berfungsi menjembatani berbagai protokol komunikasi baterai dari beragam produsen, sehingga tetap mendukung interoperabilitas.

Masih Dibahas di Tingkat Nasional

Saat ini, usulan standar steker dan soket tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama Badan Standardisasi Nasional (BSN) melalui komite teknis terkait.

BRIN juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari kementerian, pelaku industri, hingga sektor swasta guna memastikan standar yang disusun dapat diterapkan secara luas.

Dengan langkah ini, pemerintah berharap ekosistem kendaraan listrik di Indonesia dapat berkembang lebih cepat, efisien, dan terintegrasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|