Jumali Minggu, 21 Juni 2026 22:57 WIB

Logo media sosial Threads. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Media sosial kini bukan hanya ruang berbagi kabar, tetapi juga telah berubah menjadi “ruang curhat” bagi banyak pengguna. Beragam persoalan seperti pekerjaan, percintaan, hingga tekanan hidup kerap tumpah di linimasa.
Namun, kebiasaan ini tidak sesederhana sekadar “pamer masalah” atau mencari perhatian. Sejumlah studi dan pengamatan psikolog menunjukkan bahwa ada dorongan emosional yang lebih kompleks di balik fenomena tersebut.
Salah satu alasan utama seseorang gemar membagikan curhat di media sosial adalah kebutuhan untuk didengar dan dipahami. Studi New York Times Consumer Insight Group mencatat hampir separuh responden membagikan cerita pribadi karena ingin memengaruhi opini, menyebarkan pengalaman, atau mencari respons dari orang lain. Dalam konteks curhat, komentar, tanda suka, maupun dukungan sederhana dapat memberi rasa bahwa seseorang tidak menghadapi masalah sendirian.
Selain itu, media sosial juga berperan sebagai sarana pembentukan identitas diri. Melalui unggahan curhat, pengguna dapat mengekspresikan nilai, pandangan, serta pengalaman hidup yang membentuk citra diri mereka di ruang digital. Dengan demikian, apa yang dibagikan bukan hanya luapan emosi, tetapi juga bagian dari cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada lingkungan sosial.
Faktor lainnya adalah kebutuhan menjaga koneksi sosial. Platform digital memungkinkan pengguna tetap terhubung dengan keluarga, teman, atau kenalan yang jarang ditemui secara langsung. Curhat di media sosial sering menjadi pemicu interaksi yang memperkuat hubungan sosial tersebut.
Dari sisi psikologi perilaku, respons positif seperti komentar atau dukungan emosional dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Kondisi ini membuat sebagian orang terdorong untuk terus membagikan pengalaman pribadi demi mendapatkan respons serupa.
Psikolog sosial dari University of Pennsylvania, Jonah Berger, juga menilai bahwa perilaku pengguna media sosial sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain. Konten yang dibagikan cenderung dipilih karena berpotensi memunculkan respons positif seperti empati, kekaguman, atau dukungan sosial.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial cenderung meningkat ketika seseorang merasa kesepian, cemas, atau stres. Dalam kondisi tersebut, platform digital berfungsi sebagai semacam “selimut pengaman” yang memberikan koneksi instan dengan orang lain, meski bersifat sementara.
Dalam situasi seperti itu, curhat di media sosial dapat menjadi pelarian dari emosi negatif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru berpotensi memperkuat rasa kesepian dan ketidakpuasan karena tidak menyelesaikan akar masalah.
Meski kerap dianggap sekadar mencari perhatian, para ahli menilai kebiasaan ini lebih tepat dipahami sebagai kombinasi kebutuhan emosional dan sosial manusia modern.
Pada akhirnya, penting bagi pengguna untuk lebih sadar terhadap motif di balik setiap unggahan. Apakah benar-benar untuk berbagi dan mencari dukungan, atau sekadar respons spontan terhadap tekanan emosional yang sedang dialami.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































