Cara Halodoc Membawa Digitalisasi Kesehatan ke Level Baru

51 minutes ago 2

Perayaan satu dekade Halodoc di Jakarta, Senin (25/5/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bayangkan situasi 10 atau 20 tahun lalu, saat badan mulai demam atau resep obat habis, satu-satunya jalan adalah bersiap menembus kemacetan jalanan, mengantre lama di loket pendaftaran, hingga menunggu giliran di depan ruang dokter yang penuh sesak. Proses yang menguras energi ini kini terasa seperti cerita dari masa lalu.

Lompatan besar digitalisasi layanan kesehatan di Indonesia telah mengubah total cara kita merawat diri dan keluarga. Menandai perjalanannya yang genap menyentuh angka satu dekade, Halodoc mempertegas posisinya bukan sekadar sebagai aplikasi ponsel, melainkan penggerak di balik "revolusi" ekosistem kesehatan digital yang menghubungkan pasien, tenaga medis, dan mitra farmasi ke dalam satu jaringan yang hidup.

Mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di ranah medis tidak bisa dilakukan secara instan atau sekadar menyalin mentah-mentah tren global. AI medis harus tumbuh bersama data riil dari interaksi pasien, mengenali jenis obat yang beredar di Indonesia, hingga memahami pola penyakit khas di dalam negeri agar solusi yang ditawarkan benar-benar membumi.

Chief Operating Officer Halodoc, Alfonsius Timboel, memaparkan rumitnya dapur balik layar dalam mengolah data anonim masyarakat Indonesia agar kecerdasan buatan bernama HILDA yang dimiliki Halodoc bisa menjadi asisten digital yang cerdas dan peka. "AI itu kan namanya artificial intelligence harus terus dilatih, harus terus diawasi, dilatih, dan itu kita persiapkan satu proses bagaimana kita bisa mengolah seperti ini," ujarnya dalam talkshow Halodoc bertajuk "A Decade of Simplifying Indonesia’s Healthcare Ecosystem, and Shaping What Comes Next" pada Senin (25/5/2026).

Namun, di era kebanjiran informasi seperti sekarang, digitalisasi juga membawa tantangan baru bernama self-diagnosis. Banyak orang panik dan langsung menebak-nebak penyakitnya sendiri begitu membaca gejala acak di internet.

Di sinilah ekosistem digital diuji untuk memberikan batasan yang aman. Saat melatih AI yang bertugas melayani publik, harus ada jalur pembatas yang ketat agar teknologi tidak kebablasan mengambil alih wewenang klinis.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|