Di Balik Kenaikan Skor PISA, Ini Rahasia Belajar Pelajar SMP di Jakarta

7 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Kenaikan skor literasi membaca dan sains Indonesia dalam Programme for Internasional Student Assesment (PISA) 2025 dinilai menjadi pembuktian dari pola pembelajaran siswa di sekolah. Siswa mengaku semakin sering menghadapi tugas yang menuntut pemahaman, analisis, hingga pemecahan masalah.

Dalam hasil PISA 2025, skor literasi membaca Indonesia naik enam poin dari 359 pada 2022 menjadi 365. Skor litersai sains juga meningkat enam poin dari 383 menjadi 389. Sementara itu, skor matematika tercatat 364, turun dari 366 pada PISA 2022.

Salah seorang siswa kelas 9 SMPN 115 Jakarta, Ahmad Fauzan Nadim (15 tahun), mengatakan pembelajaran di sekolah saat ini tidak hanya berorientasi pada hafalan. Menurut dia, guru mulai memberikan soal yang menuntut siswa membaca dan menganalisis.“Lebih banyak yang kayak gitu. Membaca, menganalisis. Lebih berkembang soal soalnya,” kata Ahmad saat diwawancara Republika, Rabu(10/9/2026).

Menurut Ahmad, pola tersebut juga dirasakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa diminta membaca teks, kemudian mengolah informasi yang diperoleh menjadi bentuk lain, seperti langkah-langkah atau jawaban berdasarkan bacaan. Meski demikian, dia mengaku masih menghadapi kesulitan dalam pelajaran sains. Menurut dia, materi sains cukup banyak dan sebagian besar masih membutuhkan hafalan.

Kesulitan juga dirasakan ketika menghadapi soal matematika bentuk cerita. Ahmad mengatakan soal tersebut membutuhkan pemahaman lebih dahulu sebelum dapat diselesaikan.“Kadang soalnya harus diurai dulu,” katanya.

Ahmad juga menilai tuntutan untuk berpikir semakin terasa saat duduk di kelas 9. Menurut dia, soal yang diberikan memiliki persoalan yang lebih bercabang dan membutuhkan pemahaman lebih mendalam.

Hal senada disampaikan siswa kelas 9 lainnya, Ahmad Fikri (15 tahun). Ia mengatakan, pola pembelajaran di sekolah secara umum tidak banyak berubah dibandingkan ketika dirinya duduk di kelas 7 dan 8. Meski demikian, menurut dia, pengalaman pembelajaran selama masa Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) membuat siswa lebih banyak diarahkan untuk membaca.

“Waktu itu PJJ, jadi saya ditugaskan untuk membaca terlebih dahulu lalu dibuatkan teks cerita. Jadi dibanding menghafal lebih ditekankan untuk membaca,”ujar Fikri.

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Fikri mengatakan siswa juga diminta membaca terlebih dahulu sebelum menyampaikan pendapat. Ia menilai kemampuan memahami materi lebih mudah ketika guru memberikan penjelasan secara jelas.

Untuk pelajaran sains, Fikri mengaku materi masih lebih banyak diberikan dibandingkan kegiatan praktik. Ia juga menyebut soal cerita menjadi salah satu bagian yang cukup sulit dalam matematika.Menurut Fikri, tuntutan untuk berpikir juga semakin terasa dalam pembelajaran saat ini.“Iya sih, kalau sekarang memang harus disuruh mikir,” katanya.

sumber : Mg-167

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|