Ekonom Bank Permata Bilang Rupiah Sulit ke Rp16.000/US$, Ini Alasannya

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah dalam tren penurunan yang berkepanjangan hingga memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.

Pelemahan struktural yang terjadi beberapa bulan ini membawa mata uang Garuda berada di posisi rentan di tengah lonjakan volatilitas global. Kondisi tersebut memicu perdebatan mengenai relevansi target optimistis otoritas moneter yang sempat memproyeksikan rupiah mampu kembali menguat ke kisaran Rp16.200 per dolar AS yang saat ini berada di rentan Rp17.700/US$.

Chief Economist PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede, menilai bahwa secara teoritis ruang bagi rupiah untuk kembali menguat ke bawah level psikologis Rp17.000/US$ sebenarnya masih terbuka.

Berdasarkan pendekatan teori nilai tukar riil efektif, posisi wajar mata uang Indonesia dalam kondisi normal memang berada jauh di bawah level saat ini, sehingga estimasi penguatan untuk periode Juni hingga Agustus masih memiliki landasan matematis. Namun, Josua mengingatkan bahwa pergerakan mata uang tidak pernah steril dari dinamika geopolitik.

"Kalau kita melihat teori real effective exchange rate-nya (REER) rupiah, dalam kondisi normal itu mestinya kita berada di bawah Rp17.000, sehingga hitungan teoritis bahwa Juni atau Agustus rupiah bisa menguat ke Rp16.200 itu sebenarnya masih masuk akal, tetapi rupiah saat ini tidak bekerja di ruang hampa," ujar Josua dalam forum diskusi bersama media.

Grafik Real Effective Exchange Rate USDIDR (dok. Economic Research Bank Permata dan BloombergGrafik Real Effective Exchange Rate USDIDR (dok. Economic Research Bank Permata dan Bloomberg

Beliau menekankan bahwa kalkulasi di atas kertas harus berhadapan dengan pasar yang sedang wait-and-see mengantisipasi asesmen lembaga rating global seperti S&P dan MSCI.

Hambatan terbesar yang membuat rupiah cenderung rapuh dalam jangka menengah berakar pada penurunan kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pembengkakan defisit transaksi berjalan yang dipicu penurunan nilai ekspor serta tingginya beban impor minyak mentah akibat konflik global menjadi faktor penekan utama. Kondisi ini membuat surplus pada pos finansial tidak lagi mampu menutupi celah defisit struktural, sehingga keseluruhan NPI diperkirakan masih mencatatkan hasil negatif sisa tahun ini.

Dampak dari depresiasi nilai tukar yang terus berlanjut ini pun mulai merembes ke sektor riil melalui transmisi imported inflation yang mengancam pertumbuhan ekonomi. Tekanan kenaikan harga barang secara perlahan mulai mengikis daya beli masyarakat, dengan dampak paling signifikan dirasakan oleh kelompok kelas menengah yang tidak mendapatkan jaring pengaman sosial.

Kelompok ini terpaksa menunda rencana konsumsi jangka panjang mereka karena pertumbuhan pendapatan riil yang tidak memadai akibat kurangnya investasi padat karya.

Menghadapi situasi pelik ini, respons Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan dinilai sebagai langkah moneter yang sangat krusial demi menjaga ekspektasi pasar. Meski demikian, Josua menegaskan bahwa kebijakan moneter pro-stabilitas tersebut tidak akan pernah cukup jika harus berdiri sendirian tanpa adanya topangan dari sinergi kebijakan fiskal.

Seluruh kementerian harus memiliki visi yang sama dalam mendorong reformasi struktural agar komoditas ekspor Indonesia memiliki nilai tambah lebih dan tidak rentan terhadap siklus global.

Melihat seluruh kompleksitas risiko eksternal dan tantangan domestik yang ada, target penguatan rupiah secara drastis ke level Rp16.000-an per dolar AS dalam waktu dekat menjadi sangat berat. Pergerakan nilai tukar hingga akhir tahun diproyeksikan akan lebih realistis bergerak di kisaran Rp17.000an hingga Rp17.500/US$, asalkan tidak ada aksi spekulasi valas. Otoritas kini diharapkan terus memperluas penggunaan transaksi mata uang lokal (Local Currency Transactions) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|