Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,53% atau menguat 39,38 poin ke level 7.428,77 pada akhir perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (12/3/2026).
Sebanyak 272 saham naik, 376 turun, dan 164 belum bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 6,39 triliun melibatkan 14,66 miliar saham dalam 921.130 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek naik jadi Rp 13.388 triliun
Mayoritas sektor perdagangan menguat dengan kenaikan tertinggi dicatatkan oleh sektor teknologi, finansial dan energi. Adapun sektor yang mengalami koreksi paling dalam hari ini adalah properti, industri dan kesehatan.
Saham emiten berkapitalisasi besar tercatat menjadi penggerak kinerja IHSG. Tercatat saham-saham yang menopang kinerja IHSG hari ini termasuk BBCA, DCII, BYAN, BMRI dan TPIA.
Pelaku pasar hari ini dihadapkan pada sejumlah indikator makroekonomi dan sentimen fundamental krusial, baik dari dalam maupun luar negeri.
Fokus pergerakan pasar diperkirakan akan tertuju pada kestabilan rilis inflasi Amerika Serikat, daya tahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) domestik dalam menghadapi eskalasi geopolitik, hingga transisi strategis di kursi kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Kemarin, Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI telah memberikan persetujuan terhadap lima nama calon Anggota Dewan Komisioner (ADK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keputusan ini diambil pasca fit & proper test yang berlangsung pada Rabu (11/3/2026). Adapun hari ini rapat paripurna DPR hari ini, Rabu (12/3/2026), menyetujui lima nama tersebut jadi petinggi OJK.
Nama-nama yang disetujui meliputi Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua, Hernawan Bekti Sasongko sebagai Wakil Ketua, Hasan Fawzi sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Adi Budiarso sebagai Kepala Eksekutif Inovasi Teknologi dan Kripto, serta Dicky Kartikoyono sebagai Kepala Eksekutif Edukasi dan Perlindungan Konsumen.
Berbagai faktor multidimensi ini akan menjadi katalis utama penggerak pasar modal, pasar surat utang, nilai tukar mata uang, serta arah keputusan portofolio strategis pada hari ini.
Eskalasi konflik antara Iran dan proksi koalisi Amerika Serikat-Israel di Timur Tengah mendorong negara-negara Teluk untuk mengambil posisi defensif. Ibukota di kawasan Teluk menyatakan tidak memfasilitasi operasi militer yang menargetkan Iran dan berupaya mencegah wilayah kedaulatan mereka terseret ke dalam perang terbuka.
Analis keamanan menilai negara-negara ini sangat berhati-hati karena eskalasi konflik secara langsung mengancam infrastruktur vital, ekonomi, dan tatanan sosial mereka.
Iran mengatakan dunia harus bersiap menghadapi harga minyak US$200 per barel, setelah pasukannya menyerang kapal-kapal dagang pada Rabu. Pada saat yang sama, International Energy Agency (IEA) merekomendasikan pelepasan besar-besaran cadangan minyak strategis untuk meredam salah satu guncangan harga minyak terburuk sejak 1970-an.
Sementara itu, dari kawasan regional Asia-Pasifik, Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 1,56%. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 1,6%, sementara Topix kehilangan 1,34%. Indeks Kospi Korea Selatan turun 0,75%.
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di 25.756, dibandingkan dengan penutupan terakhir indeks di 25.898,76.
Semalam di AS, Dow Jones Industrial Average turun karena investor terus mengamati perkembangan perang AS-Iran dan harga minyak.
Indeks 30 saham tersebut kehilangan 289,24 poin, atau 0,61%, untuk ditutup pada 47.417,27. Indeks S&P 500 turun tipis 0,08% menjadi 6.775,80, sementara Nasdaq Composite naik tipis 0,08% menjadi 22.716,13.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 7% menjadi US$93,8 per barel pada hari Rabu. Minyak mentah Brent naik nyaris 8% menjadi $99,1 per barel.
(fsd/fsd)
Addsource on Google


















































