Haji, Perdamaian, dan Plastik

56 minutes ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sukron Kamil, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta

Hingga hari ini, perjanjian damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menemui jalan buntu. Keduanya tak saling melunak. AS mendesak Iran untuk menghentikan seluruh program nuklirnya, termasuk menyerahkan cadangan uraniumnya, dan mengizinkan inspeksi AS tanpa batas. Bagi Iran itu lebih sebagai ultimatum daripada undangan berdamai.

AS menuntut diakhirinya juga blokade atas di Selat Hormuz. Sementara Iran menginginkan sebaliknya. Padahal, kerugian ekonomi bagi Iran ditaksir mencapai 270 miliar dolar AS (sekitar Rp 4.629 triliun, melebihi APBN Indonesia tahun 2026 ini yang berjumlah Rp 3.153,6 triliun) akibat berbagai kerusakan infrastruktur.

Sedangkan kerugian yang diderita AS sekitar 40 hingga 50 miliar dolar AS (sekitar Rp 693 triliun hingga Rp 866 triliun), jauh melampaui estimasi awal, meski lebih kecil ketimbang Iran. Termasuk di dalamnya AS kehilangan 42 pesawat dan rusaknya berbagai pangkalan militer. Bahkan, membuat bisnis global merugi Rp 441,85 Triliun.

Haji dan Perdamaian

Bagi dunia, perang AS-Iran yang dimulai 28 Februari 2026 hingga hari ini sesungguhnya mengagetkan. Umumnya orang di dunia agaknya mengira Perang AS-Iran akan berlangsung sebagaimana operasi militer Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro dan menaklukkan Venezuela dalam waktu sekitar 2 jam 20 menit hingga 2,5 jam. Paling tidak, secepat AS menaklukkan Irak, lawan Iran dalam perang sebelumnya. Namun, hingga kini ternyata masih berlangsung.

Dalam perang Iran-Amerika Serikat malah memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi Iran yang tinggi. Hampir semua/sebagian besar rudal yang digunakan dalam perang, terutama serangan Iran ke Israel dan pangkalan udara AS sebagai balasan adalah produk dalam negeri Iran. Beberapa laporan menunjukkan jangkauan rudal Iran mampu mencapai 1.760 kilometer dengan muatan 750 kilogram, meski jangkauan sebenarnya yang nyata agaknya sekitar 1.000 kilometer/kurang. Bahkan, kini dunia khawatir jika Iran menggunakan rudal balistik yang bisa berisi senjata nuklir yang bisa mematikan Timur Tengah dan dunia lain, meski keberadaan senjata nuklir di Iran yang dikembangkannya hingga kini masih hanya dugaan/dugaan besar.

Meskipun begitu, di momen haji hendaknya kedua belah pihak menahan diri untuk bisa berdamai, meski keduanya harus menurunkan tuntutannya, terutama AS. Dalam berdamai kedua pihak tak bisa mendapat semua keinginannya. Dalam tuntutan itu tampak memang negara berkembang, apalagi negara Islamic State seperti Iran, yang bisa menjadi ancaman bagi Barat di bawah AS dilarang sama sekali mengembangkan nuklir.

Sementara saat mantan Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad (berkuasa 2005-2013) berkunjung ke UIN Jakarta, penulis sempat mengobrol soal nuklir Iran itu. Katanya, jika mereka (Barat) bisa mengembangkan nuklir, mengapa Iran tak boleh. Sementara dalam teologi Syi’ah/Islam Iran, membela dan menuntut keadilan adalah bagian dari rukun iman, kepercayaan dasarnya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|