Harga Minyak Goreng Kemasan Premium Mulai Naik, Bos Peritel Ungkap Ini

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak goreng (migor) kemasan premium di ritel modern terpantau mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Berdasarkan pantauan di sejumlah minimarket di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan, harga minyak goreng ukuran 2 liter kini dijual lebih mahal, sementara stok ukuran tertentu, khususnya 1 liter, mulai terbatas.

Di gerai Alfamart, minyak goreng merek Sunco ukuran 2 liter dibanderol Rp46.300, sementara Tropical dijual Rp45.400. Adapun di Indomaret, Sunco ukuran 2 liter mencapai Rp47.000 dan Bimoli Rp45.500. Sementara itu, untuk kemasan 1 liter dilaporkan mulai sulit ditemukan di sejumlah gerai.

Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin menegaskan, ritel modern pada dasarnya hanya menjual produk dan tidak memiliki kendali atas harga dari sisi hulu.

"Gini, saya jelasin dulu ya. Ritel Modern yang saat ini merupakan anggota Aprindo, dia hanya menjual barang, tidak memproduksi barang," kata Solihin kepada CNBC Indonesia, Selasa (21/4/2026).

Ia menjelaskan, harga jual di ritel sangat bergantung pada harga yang ditetapkan oleh produsen maupun distributor atau pemasok, kemudian ditambah dengan margin standar yang relatif terbatas.

"Jadi artinya kalau distributor, supplier memberikan harga kepada kita, kita rata-rata ada standar margin, jadi tergantung distributornya, atau suppliernya, karena kan kita tidak memproduksi. Jadi kalau distributor menawarkan sekian, kita punya standar margin 5% atau 10%, ya udah dari harga kita beli kita naikin 10% jadi harga jual," jelasnya.


Menurutnya, kenaikan harga migor premium saat ini memang berasal dari sisi produsen atau distributor, bukan dari kebijakan ritel. Apalagi, migor premium tidak termasuk dalam kategori yang diatur melalui Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Kebetulan minyak yang premium itu kan tidak diatur di dalam HET ya," ucap dia.

Ia menegaskan, ritel hanya mengikuti harga yang sudah lebih dulu disesuaikan oleh pemasok.

"Iya betul, dan sekarang ini kan sudah terjadi beberapa produk dengan kondisi yang sekarang, harganya sudah ada yang menyesuaikan ya.. menyesuaikan, ya kita menerima saja dari yang dia tawarkan, dengan plus standar marginnya ritel, seperti itu. Maka jadilah harga jual kita gitu lah," sambungnya.

Terkait faktor kenaikan harga dari sisi hulu, Solihin mengakui adanya tekanan biaya, termasuk dari bahan baku kemasan seperti plastik. "Iya betul," ujarnya singkat.

Di sisi lain, ia memastikan ritel tidak memiliki strategi untuk menimbun stok dalam jumlah besar guna mengantisipasi kenaikan harga. Stok yang tersedia umumnya hanya bersifat buffer dalam jangka pendek.

"Jadi anggota Aprindo tidak punya kepemikiran untuk melakukan stok barang, stok barang yang ada pada saat ini lebih kepada hal-hal yang sifatnya memang menjadi buffer stok ya," jelas Solihin.

"Pada umumnya buffer stock itu kan bisa asumsinya, asumsi buffer stok yang ada terjadi ritel itu antara 14 hari sampai 28 hari maksimum gitu loh," lanjut dia.

Ia menegaskan, ritel tidak mampu menahan stok terlalu lama karena keterbatasan arus kas. "Nggak kuat (kalau ditahan lebih lama), karena kita kan harus bayar barang itu setelah masuk 14 hari atau 28 hari harus dibayar, jadi kita nggak mau beresiko perputaran uang kita kan. Mati masalahnya kalau terlalu banyak stoknya gitu kan," sebutnya.

Lebih lanjut, Solihin juga menyebut ritel tidak memiliki daya tawar yang cukup untuk meminta pemasok menaikkan harga secara bertahap demi menjaga daya beli konsumen.

"Hampir rata-rata kalau dalam konteks ini kita gak punya kekuatan untuk itu. Selalu berdasarkan apa yang ditawarkan oleh para distributor atau pemasok atau supplier ya," kata Solihin.

Meski demikian, ia mengakui pemasok umumnya tetap memberikan pemberitahuan sebelum kenaikan harga diberlakukan.

"Dan biasanya memang pemasok kalau dalam keadaan tertentu harus menaikkan harga, mereka nggak mendadak ya, biasanya disampaikan bahwa tertanggal sekian akan terjadi kenaikan gitu ya," jelasnya.

Pada akhirnya, ia menegaskan mekanisme pasar tetap menjadi penentu apakah produk dengan harga baru tersebut dapat diterima konsumen atau tidak.

"Iya, dan nanti akan tertera di dalam repeat ordernya, apakah dengan harga segitu produk itu jalan atau tidak, nanti bisa kelihatan gitu ya. Kembali kepada konsumen nanti, seperti itu," tutup Solihin.

Pergerakan Harian Harga Minyak Goreng Kemasan Premium

Berdasarkan data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan per 21 April 2026, harga minyak goreng sawit kemasan premium secara nasional tercatat Rp21.796 per liter. Harga ini naik 0,19% dibandingkan hari kemarin 20 April 2026 yang berada di level Rp21.755 per liter.

Sementara jika dibandingkan dengan harga sepekan lalu, atau per 17 April 2026, harga minyak goreng kemasan premium berada di level Rp21.712 per liter, atau mengalami kenaikan 0,39% dengan harga hari ini.

Secara bulanan, jika dibandingkan dengan 2 Maret 2026 (Rp21.094 per liter), harga juga meningkat sekitar 3,13%.

Secara tahunan (year-on-year), harga minyak goreng kemasan premium naik signifikan. Pada 21 April 2025, harga tercatat Rp20.875 per liter, lebih rendah 4,41% dibanding posisi saat ini Rp21.796 per liter.

Artinya, dalam setahun harga minyak goreng kemasan premium mencerminkan tren kenaikan yang berlanjut. Kenaikan ini sejalan dengan tren di lapangan, di mana harga di ritel modern ikut mengalami penyesuaian.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|