IMF Blak-blakan Soal Dolar AS dan Nasib Mata Uang di Dunia

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah dalam posisi penguatan terhadap berbagai mata uang negara lain, tak terkecuali rupiah, imbas dari ketidakpastian ekonomi akibat perang Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Iran di kawasan Timur Tengah.

Namun, ternyata penguatannya kini makin terbilang moderat dibanding periode krisis sebelum-sebelumnya, menurut Penasihat Ekonomi dan Direktur Riset Dana Moneter Internasional (IMF) Pierre‑Olivier Gourinchas dalam taklimat media IMF Spring Meetings, dikutip Rabu (15/4/2026).

"Hal inilah yang kita amati setelah terjadinya konflik di kawasan Timur Tengah. Penguatan dolar tersebut tergolong moderat jika dibandingkan dengan standar historis, namun tetap merupakan suatu apresiasi," ucapnya.

Gourinchas mengungkapkan, biasanya ketika terjadi ketidakpastian dalam perekonomian global atau muncul sentimen risk-off di tengah-tengah pelaku pasar keuangan, para investor akan mencari aset yang lebih aman.

Mereka mengalihkan portofolionya ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasuries) atau instrumen sejenis. Pergerakan ini umumnya berkaitan dengan penguatan nilai dolar.

Kondisi ini lah yang ia sebut kembali terjadi saat ini, tercermin dari level indeks dolar AS yang mengukur kekuatannya terhadap enam mata uang utama dunia (DXY) mengalami kenaikan sejak periode konflik meletus antara AS-Israel dengan Iran pada akhir Februari 2026.

Walaupun penguatan dolar saat ini lebih cenderung moderat dibanding periode krisis sebelumnya, Gourinchas memperingatkan, efeknya terhadap dorongan tekanan inflasi hingga beban utang tetap saja berisiko tinggi. Maka, ia menekankan pentingnya diversifikasi.

"Apresiasi ini kemudian menimbulkan tekanan inflasi di negara lain, karena dari perspektif mereka terjadi depresiasi mata uang domestik. Selain itu, kondisi ini juga memperketat kondisi keuangan, mengingat banyak dari negara tersebut memiliki kewajiban dalam denominasi dolar," ucap Gourinchas.

Merujuk data Refinitiv, per hari ini DXY memang terbilang stabil dibanding penutupan perdagangan hari sebelumnya. Hingga data yang dilihat pada pukul 12.00 WIB, DXY bertengger di level 98,16, sedangkan kemarin ditutup di level 98,12.

Level DXY tertinggi terjadi pada 30 Maret 2026 sebesar 100,51. Saat serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026, DXY juga bergerak di kisaran level yang serupa seperti saat ini. Lonjakan awal terjadi pada 2 Maret 2026 ke level 98,38, dari posisi 27 Februari 2026 sebesar 97,61.

(arj/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|