Kota Gurun Ini Tinggal 36 Warga, Bertahan di Tengah Sepi

2 hours ago 1

Harianjogja.com, CALIFORNIA—Sebuah kota kecil di gurun California bertahan dengan hanya 36 penduduk, meski menawarkan harga rumah jauh lebih murah dibanding wilayah lain di negara bagian tersebut.

Dilansir dari Sfgate, Kota Darwin yang berada di Inyo County kini menghadapi ancaman penyusutan populasi. Lokasinya yang terpencil, tak jauh dari kawasan Death Valley, membuat kota ini sulit menarik penduduk baru meski menawarkan ketenangan yang jarang ditemukan di kota besar.

Perkembangan terbaru menunjukkan jumlah warga Darwin kini hanya tersisa 36 orang. Kondisi ini sangat kontras dibanding masa kejayaannya pada akhir abad ke-19, ketika penemuan cadangan perak dan timah membuat populasi kota ini melonjak hingga sekitar 3.500 jiwa.

Namun, kejayaan tersebut tidak bertahan lama. Menipisnya cadangan tambang serta pergeseran jalur transportasi utama membuat aktivitas ekonomi melemah. Situasi kian memburuk setelah tambang terakhir ditutup pada 1970-an, memicu eksodus besar-besaran penduduk.

Saat ini, Darwin hanya menyisakan deretan rumah tua di tengah lanskap gurun yang dipenuhi kaktus. Kota ini bahkan berjarak lebih dari 8 kilometer dari jalan raya terdekat dan tidak memiliki fasilitas dasar seperti toko kelontong, restoran, maupun layanan kesehatan.

Masalah krusial lain yang dihadapi adalah ketersediaan air. Sistem distribusi air di kota ini masih mengandalkan pipa gravitasi dari sumber yang jauh dan harus dirawat secara manual oleh warga.

Komunitas yang tersisa didominasi oleh penduduk lanjut usia dengan rata-rata usia mencapai 66 tahun. Kondisi ini menambah tantangan dalam menjaga keberlangsungan infrastruktur dasar, terutama sistem air yang membutuhkan perawatan rutin.

Meski demikian, harga properti di Darwin tergolong lebih terjangkau dibanding kota lain di California. Beberapa rumah dengan tiga kamar tidur ditawarkan sekitar US$245.000, sementara rumah kecil dua kamar bisa didapatkan dengan harga sekitar US$85.000. Namun, harga murah belum cukup untuk menarik minat pendatang baru.

Seorang warga lama, Kathy Goss, mengungkapkan bahwa komunitasnya terus kehilangan penduduk. Ia bahkan pernah memasang papan bertuliskan “Orang tinggal di sini” untuk menegaskan bahwa Darwin bukan kota hantu.

“Kami tidak ingin turis datang untuk merekamnya seperti kota hantu,” ujarnya. “Kami ingin anak muda benar-benar tinggal di sini dan membantu memelihara komunitas ini.”

Hal senada disampaikan Nico Georis, salah satu penduduk termuda di kota tersebut. Ia menilai keberadaan generasi muda sangat dibutuhkan, terutama untuk menjaga sistem air yang kini bergantung pada tenaga sukarelawan yang sebagian besar sudah lanjut usia.

Beberapa pendatang dari kota besar seperti Las Vegas dan San Francisco mulai melirik Darwin sebagai tempat tinggal alternatif yang lebih tenang. Namun tanpa dukungan fasilitas dan tambahan tenaga produktif, masa depan kota ini masih penuh ketidakpastian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|