Nasib Miris Lulusan LN Susah Dapat Kerja, Terpaksa Pulang Kampung

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang kepulangan mahasiswa China lulusan luar negeri mencapai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Sulitnya mencari pekerjaan di negara tujuan studi, ketatnya aturan visa, hingga persaingan kerja global yang makin sengit membuat banyak lulusan akhirnya memilih kembali ke kampung halaman.

Laporan 2025 China Returnee Employment Survey Report yang dirilis platform rekrutmen China, Zhaopin, menunjukkan jumlah pencari kerja lulusan luar negeri yang baru kembali ke China naik 12% secara tahunan. Angka itu menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Meski tidak merinci jumlah absolut, Zhaopin menyebut proporsi lulusan luar negeri yang pulang ke China kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2018 saat pelacakan pertama kali dilakukan.

Data tersebut menunjukkan tren kepulangan ke tanah air yang semakin kuat. Kecuali pada 2023 ketika pandemi Covid-19 menghambat mobilitas, jumlah lulusan luar negeri yang kembali ke China terus meningkat hampir setiap tahun, menurut laporan yang dikutip China Daily.

Mayoritas lulusan yang kembali berasal dari negara-negara Barat maju. Inggris menjadi negara asal lulusan terbanyak dengan porsi sekitar 34%, disusul Australia 22%, dan Amerika Serikat 8%.

Platform perekrutan Zhaopin, seperti dikutip South China Morning Post, menyebut fenomena ini mencerminkan "kepercayaan diri yang kuat" dari tenaga kerja global terhadap prospek di China.

Data Kementerian Pendidikan China juga memperkuat tren tersebut. Pada 2024, sekitar 495.000 lulusan luar negeri kembali ke China, naik lebih dari 19% dibanding tahun sebelumnya.

Kementerian itu mencatat sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan dimulai pada 1978 hingga 2024, total 8,88 juta warga China telah menempuh pendidikan di luar negeri.

Dari 7,43 juta pelajar yang menyelesaikan studi, sebanyak 6,44 juta memilih pulang ke China, menurut kantor berita Xinhua. Sementara sejak 2012, sebanyak 5,63 juta pelajar telah kembali ke China, setara 87% dari total lulusan yang pulang sejak akhir 1970-an.

Sektor Teknologi Jadi Incaran

Laporan Zhaopin menyebut sektor internet, pendidikan, dan konsultasi menjadi tujuan utama lamaran kerja para lulusan luar negeri. Namun dari sisi pertumbuhan, sektor teknologi informasi dan manufaktur canggih mencatat peningkatan paling pesat.

Bidang seperti material baru, optoelektronik, robotika, kecerdasan buatan (AI), perangkat keras pintar, hingga dirgantara mengalami lonjakan permintaan tenaga kerja.

"Sektor-sektor ini umumnya ditandai dengan intensitas riset dan pengembangan yang tinggi, hambatan teknologi yang besar, dan orientasi internasional yang kuat," tulis laporan Zhaopin, dikutip dari HR Asia, Jumat (15/5/2026).

Zhaopin menilai arus kepulangan ini didorong kebijakan pemerintah China yang mendukung industri generasi baru serta meningkatnya investasi di sektor teknologi maju. Selain itu, pertumbuhan ekonomi China dinilai mampu menawarkan peluang karier yang menarik bagi lulusan luar negeri.

Direktur 21st Century Education Research Institute, Xiong Bingqi, mengatakan tren percepatan kepulangan lulusan China dari luar negeri sebenarnya sudah berlangsung dalam jangka panjang.

Menurut dia, studi ke luar negeri kini bukan lagi sesuatu yang eksklusif bagi kalangan elite sehingga semakin banyak mahasiswa China yang bisa mengenyam pendidikan internasional.

Namun, terbatasnya peluang kerja di luar negeri membuat banyak lulusan akhirnya memilih kembali ke China. Menurutnya, membaiknya ekonomi domestik dan semakin luasnya peluang kerja juga menjadi magnet kuat bagi para lulusan tersebut untuk pulang kampung.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|