Nenek Kardus "Hantui" Kota Terkaya Dunia, Ramai Lansia Jadi Pemulung

4 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - "Nenek kardus" kini menghantui Hong Kong. Keberadaan para pemulung lanjut usia (lansia) kini menjadi pemandangan kerap ditemukan di salah satu kota terkaya dunia itu.

Banyak dari mereka yang telah berusia 70 tahun atau lebih, harus bersusah payah mengangkut puluhan kilogram kardus demi upah yang sangat kecil agar bisa bertahan hidup di salah satu kota terkaya di Asia tersebut. Pada hari yang baik, mereka mungkin bisa menghasilkan US$ 12 (Rp 212.736), angka yang nyaris tidak cukup untuk membayar dua kali makan.

Salah satu pemulung, Wu Sau-jing yang berusia 71 tahun. Ia turun ke jalan pada pukul 02.00 dini hari setiap malam untuk mulai mengumpulkan kardus-kardus yang dibuang di jalan oleh bisnis dan restoran.

Dirinya kemudian memilah hasil temuannya ke dalam beberapa kategori lalu membawanya ke perusahaan daur ulang lokal untuk dijual. Ia biasanya baru pulang ke rumah sekitar pukul 11.00 siang. 

"Saya mempertahankan mata pencaharian dan ini juga merupakan hobi saya. Jika Anda tidak menyukainya, ini bisa menjadi hal yang cukup melelahkan," kata Sau-jing sebagaimana dimuat CNN International, Senin (25/5/2026).

Kondisi serupa juga dialami oleh Lai, seorang lansia berusia 70-an tahun yang telah memulung kardus selama 20 tahun terakhir. Pendapatannya kini telah merosot hingga setengahnya dalam setahun terakhir, di mana perusahaan daur ulang yang biasanya membayar atau US$ 0,078 (Rp 1.383) per kilogram-sesuai rekomendasi minimum pemerintah-sekarang hanya menawarkan US$ 0,038 (Rp 674) saja.

Lebih buruk lagi, terkadang ia tidak mendapatkan uang sepeser pun. Ini terjadi ketika orang asing atau petugas pemerintah membuang barang-barang yang dikumpulkannya karena salah mengira hal itu sebagai sampah yang menyumbat jalan.

Meskipun terdapat kekayaan yang sangat besar di Hong Kong, nyatanya banyak penduduk lansia yang harus berjuang keras. Badan amal Oxfam Hong Kong dalam laporan tahun 2024 memperkirakan ada 580.000 lansia di kota itu yang hidup dalam kemiskinan.

Pemerintah setempat sebenarnya menawarkan tunjangan bulanan kecil kepada warga lansia. Namun beberapa dari mereka tetap perlu dan memilih untuk mendapatkan penghasilan lebih guna menutupi biaya hidup di salah satu kota termahal di dunia ini.

Nasib buruk juga menimpa Chan Ngai-kan yang berusia 95 tahun. Pada suatu sore setelah mendorong kereta dorongnya dari satu distrik ke distrik lain.

Dirinya mendapati pos daur ulang yang biasa ia kunjungi sudah tidak lagi menerima kardus akibat adanya perubahan kebijakan. Ia pun terpaksa membuang hasil angkutannya di tempat sampah terdekat dan berjalan pergi tanpa membawa uang sepeser pun.

"Anak-anak saya berada di Kanada dan saya tidak punya uang," ujar Ngai-kan menyebut peristiwa hari itu sebagai pukulan yang sangat besar baginya.

Selain para wanita, ada pula Cheung yang berusia 80 tahun sebagai salah satu dari sedikit pria yang mengumpulkan kardus di jalanan. Pria ini tidak memiliki jadwal tetap dan lebih memilih untuk mengambil kardus apa saja yang ia temui.

Saat terkumpul cukup banyak, ia harus melakukan perjalanan selama 30 menit mendorong kereta dorong dari rumahnya ke pusat daur ulang terdekat. Tak jarang, ia melewati beberapa jalan yang curam demi memenuhi kebutuhan hidup.

Hong Kong sendiri menghasilkan sekitar 1,51 kg sampah per kapita setiap hari, jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan negara tetangga di Asia seperti Tokyo (0,88 kg), Seoul (0,95 kg), dan Taipei (1,139 kg). Menurut data resmi, hanya antara 30% hingga 40% sampah di Hong Kong yang didaur ulang, dibandingkan dengan lebih dari setengahnya di Taiwan dan Korea Selatan (Korsel).

Bagi Sau-jing, upaya malam harinya ini adalah tentang menyelamatkan lingkungan sekaligus untuk menyambung hidup. Selama tiga dekade terakhir, ia terus kembali ke jalan yang sama dengan rutinitas yang sama setiap malam karena pekerjaan yang berbahaya dan jam kerja yang melelahkan ini telah menjadi seperti kecanduan baginya.

"Ini seperti merokok dan berjudi. Ini adalah hobi yang tidak bisa Anda hilangkan... Saya akan melakukannya sampai hari di mana saya tidak bisa melakukannya lagi," kelakar Sau-jing.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|