Pengembangan CNG Dinilai Strategis untuk Ketahanan Energi Nasional

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA, – Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyatakan bahwa pengembangan compressed natural gas (CNG) merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan efisiensi biaya di sektor industri. Pernyataan ini muncul menyusul rencana pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menggunakan CNG sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG).

Lamhot menyoroti ketergantungan Indonesia yang tinggi terhadap impor LPG yang mencapai lebih dari 70 persen kebutuhan nasional. Ini, menurutnya, membebani neraca perdagangan dan fiskal melalui subsidi energi. Oleh karena itu, memanfaatkan CNG dari gas bumi domestik adalah solusi yang rasional, terutama karena Indonesia memiliki cadangan gas yang besar namun belum dimanfaatkan optimal, khususnya di sektor hilir.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, konsumsi gas bumi nasional terus meningkat dengan sektor industri menyerap lebih dari 30 persen penggunaan energi gas. Lamhot menegaskan bahwa tingginya konsumsi energi di sektor industri menjadi alasan kuat untuk mempercepat transisi ke energi alternatif yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Peluang Ekonomi dan Lingkungan

Menurut Lamhot, beralihnya sebagian konsumsi energi industri dari BBM dan LPG ke CNG dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi dan daya saing industri nasional. Dari sisi ekonomi, CNG lebih kompetitif dibandingkan energi berbasis minyak yang harganya fluktuatif. Selain itu, CNG memiliki keunggulan operasional karena bisa didistribusikan ke wilayah tanpa jaringan pipa melalui kompresi bertekanan tinggi, membuka akses energi untuk kawasan industri baru dan UMKM.

Penggunaan CNG juga menghasilkan emisi karbon lebih rendah dibandingkan BBM dan LPG, sejalan dengan target Indonesia mencapai net zero emission pada 2060. Komisi VII DPR RI, menurut Lamhot, akan mendorong kebijakan transisi energi dari berbasis minyak ke alternatif seperti gas bumi, termasuk CNG.

Kesiapan Infrastruktur dan Kolaborasi

Lamhot mengingatkan pentingnya kesiapan infrastruktur dan regulasi agar implementasi CNG berjalan optimal, seperti pengembangan stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG), fasilitas kompresi, dan distribusi logistik. Ia juga menyoroti peran BUMN energi, seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk, yang telah mengoperasikan sejumlah SPBG dan melayani pelanggan industri.

Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta diperlukan untuk mempercepat adopsi CNG di berbagai sektor ekonomi. Lamhot meyakini bahwa jika ekosistemnya dibangun dengan baik, CNG berpotensi menjadi tulang punggung energi transisi nasional dalam jangka menengah. Diversifikasi energi menjadi keharusan di tengah dinamika geopolitik global yang mempengaruhi harga energi. Momentum ini harus dimanfaatkan dengan eksekusi kebijakan yang konsisten.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|