Ilustrasi nasi kotak. / Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Berakhirnya program makan gratis di Gunungkidul justru menyisakan temuan menarik berupa anggaran yang tidak terserap, meski ribuan warga telah menerima manfaat selama sebulan penuh.
Program yang berjalan sejak 13 Februari hingga 14 Maret 2026 itu menjangkau 1.112 penerima setelah melalui proses verifikasi dari total awal 1.227 calon penerima di wilayah di Gunungkidul.
Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul, Suyono, mengatakan seluruh penerima memperoleh jatah makan dua kali sehari dengan menu lengkap.
“Setiap penerima manfaat diberikan makan dua kali dalam sehari. Menunya ada nasi, lauk pauk, sayur hingga buah-buahan,” kata Suyono, Jumat (27/3/2026).
Meski program berjalan tanpa gangguan berarti, terdapat sejumlah faktor yang membuat anggaran tidak terserap sepenuhnya. Sebanyak 115 orang gugur dari daftar penerima setelah verifikasi, sementara 22 lainnya tidak menerima bantuan karena meninggal dunia, pindah domisili, atau penolakan keluarga.
Dari pagu anggaran Rp1,3 miliar, tersisa Rp19,8 juta yang akhirnya dikembalikan ke kas daerah. Program ini menyasar kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan anak terlantar yang belum mendapatkan bantuan lain.
Dari Dapur Warga Hingga Pintu Rumah Penerima
Di balik distribusi makanan harian, program ini digerakkan oleh masyarakat lokal di setiap kapanewon di Gunungkidul.
Sebanyak 18 kelompok masyarakat dilibatkan sebagai pengelola, dengan masing-masing kelompok mengerahkan sedikitnya sepuluh warga untuk memasak, mengemas, hingga mengantarkan makanan langsung ke rumah penerima.
“Kelompok masyarakat pengelola, mirip dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam program makan bergizi gratis,” ujar Suyono.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta, menyebut program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai langkah konkret menekan angka kemiskinan.
“Tujuannya memang untuk peningkatan gizi terhadap penerima bantuan, tapi harapannya juga bisa mengurangi jumlah keluarga miskin di Gunungkidul,” katanya.
Program tersebut diluncurkan di Kalurahan Gedangrejo dan menjadi salah satu intervensi langsung pemerintah daerah dalam menjangkau kelompok paling rentan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































