RI Punya Sumber 'Harta Karun' Baru, Mendadak Ramai Diserbu Asing

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Infrastruktur pusat data (data center) menjadi 'harta karun' baru di era ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Raksasa teknologi dunia berbondong-bondong membangun data center untuk melatih dan mengembangkan teknologi AI.

Kawasan Asia Tenggara digadang-gadang akan menjadi salah satu pusat pengembangan data center terbesar di dunia. Permintaan pusat data di kawasan ini diperkirakan akan tumbuh sebesar 20% setiap tahun hingga tahun 2028, menurut Dewan Bisnis AS-ASEAN.

Saat ini terdapat 370 data center di kawasan Asia Tenggara, dengan sebagian besar berada di Singapura, Indonesia, dan Malaysia, menurut laporan yang dikutip dari Fortune, Jumat (27/3/2026).

"Ekosistem ini telah menyadari bahwa jika mereka tidak memanfaatkan gelombang berikutnya, mereka mungkin akan berakhir dijajah secara digital," kata Mayank Shrivastava, CEO BDx Data Centers yang berkantor pusat di Singapura, kepada Fortune.

"Keuntungan ekonomi mengalir ke negara yang mengubah bahan mentah menjadi barang jadi. Salam hal ini, bahan mentahnya adalah data," ia menambahkan.

Kendati demikian, ada tantangan tersendiri untuk kawasan Asia Tenggara dalam mengembangkan industri 'harta karun' baru ini. Iklim tropis yang lembab akan membutuhkan energi yang lebih besar untuk menjalankan data center, ketimbang di kawasan yang memiliki iklim lebih dingin.


Pasalnya, server-server yang ada di dalam infrastruktur data center harus selalu dalam keadaan dingin. Dibutuhkan air dan pasokan listrik yang sangat besar untuk menanggulangi energi panas yang dikeluarkan.

Rata-rata temperatur di kawasan Asia Tenggara dikatakan sekitar 80-95 derajat Fahrenheit. Sementara itu, data center secara ideal harus dijaga dalam temperatur 64-81 derajat Fahrenheit, menurut Perhimpunan Engineer Pemanas, Pendingin, dan Pengkondisian Udara Amerika Serikat.

"Masalah utama di daerah tropis bukan hanya panas, tetapi panas dan kelembapan secara bersamaan," kata Lee Poh Seng, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam sistem termal di Universitas Nasional Singapura (NUS).

"Di iklim tropis, suhu lingkungan yang lebih tinggi membuat pelepasan panas lebih sulit, sementara kelembapan tinggi mempersulit pengendalian titik embun, meningkatkan risiko kondensasi dan korosi, serta mengurangi keandalan jangka panjang," ia menjelaskan.

Hal ini menempatkan operator data center pada dilema besar. Pada 11 Maret lalu, BDx menjadi perusahaan pertama yang menerapkan Standar Data Center Tropis Singapura, yang merupakan serangkaian pedoman untuk membantu data center secara bertahap meningkatkan suhu operasional hingga 26 derajat Celcius (atau 78,8 derajat Fahrenheit).

Asia Tenggara Jadi 'Raja' Data Center Baru

Para CEO data center melihat kawasan Asia Tenggara mampu mengisi ketimpangan dalam ekosistem AI global. Pasalnya, perusahaan-perusahaan di AS sudah tergopoh-gopoh untuk mengatasi infrastruktur listrik yang sudah usang dan tantangan politik terhadap proyek-proyek baru.

"AS masih menjadi pasar data center terbesar di dunia, tetapi ada banyak tantangan yang dihadapi, terlebih ketika setiap negara bagian memiliki regulasi berbeda-beda dalam pembangunan infrastruktur data center," kata Eric Fan, CEO Bridge Data Centers, kepada Fortune.

"Banyak proyek-proyek data center di AS yang harus tertunda. Dibutuhkan upaya global untuk mencari cara mengisi kesenjangan ini," ujarnya.

Malaysia berencana menambahkan 8 gigawatt pembangkit listrik tenaga gas pada 2030 untuk memenuhi kebutuhan data center yang terus berkembang. Sementara itu, Singapura telah menjanjikan lebih dari S$1 miliar selama lima tahun ke depan untuk penelitian AI publik.

Sektor teknologi global juga berbondong-bondong menggelontorkan investasi data center ke kawasan Asia Tenggara. Raksasa seperti Amazon, Microsoft, Alibaba, dan Tencent, sudah berinvestasi miliaran dolar AS untuk membangun data center hyperscale di kawasan ini.

"Asia Tenggara masih memiliki ruang untuk membangun [data center]," kata Lee dari NUS.

"Raksasa teknologi melihat kawasan ini menarik karena skala populasinya, konektivitas diber, dan posisinya di antara pasar digital Asia Selatan dan Asia Utara," ia menambahkan.

BDx Data Centers yang didirikan pada 2019 lalu, kini sudah menjangkau empat negara berbeda. Masing-masing Singapura, Hong Kong, China, dan Indonesia. Operasional terbesarnya ada di Indonesia, di mana BDx memiliki 6 data center, termasuk kampus 100MW di Jakarta.

Operator lainnya, Bridge Data Centers, yang juga didirikan di Singapura pada 2017 lalu, kini sudah mengoperasikan data center di India, Malaysia, dan Thailand. Perusahaan ini dibekingi Bain Capital asal Boston, yang menjual perusahaan data center Chindata ke konsorsoum yang dipimpin China senilai US$4 miliar.

Tantangan Iklim

Meskipun Asia Tenggara memiliki ambisi besar terkait kemampuan AI, perusahaan-perusahaan tetap harus memikirkan cara untuk menanggulangi tantangan panas dan pasokan listrik.

"Infrastruktur AI pada dasarnya adalah tantangan energi dan pendinginan yang terbungkus dalam peluang ekonomi digital," kata Lee.

"Proyek-proyek yang sukses di Asia Tenggara bukanlah proyek yang hanya membangun paling cepat, tetapi proyek yang menunjukkan kinerja kredibel dalam efektivitas penggunaan daya, penggunaan air, intensitas karbon, dan kompatibilitas jaringan," ia menambahkan.

Ia menyarankan agar perusahaan perlu mengambil pendekatan yang mengutamakan daya, memperhatikan air, dan cerdas secara termal, dengan menempatkan proyek di tempat-tempat yang memiliki akses ke energi bersih, menggunakan desain yang efisien, dan beralih dari pendinginan tingkat ruangan ke pendinginan tingkat chip atau pendinginan berbasis cairan.

BDx dan Bridge Data Centers dikatakan sedang menjajaki sumber energi alternatif untuk mendukung operasional mereka. "Keuntungan besar berada di iklim tropis adalah Anda mendapatkan banyak sinar matahari dan angin, serta dikelilingi air," jelas Shrivastava dari BDx.

Secara terpisah, Bridge Data Centers sedang mempelajari tenaga hidrogen dan nuklir, dengan tujuan mencapai netralitas karbon pada tahun 2040. Salah satu data center mereka di Malaysia sudah mendapatkan setengah energinya dari tenaga surya, sebuah model yang ingin diadopsi di lokasi lainnya.

Dengan sumber energi tradisional yang tertekan akibat konflik di Timur Tengah, data center menyadari bahwa mereka membutuhkan alternatif.

"Perang Iran telah menyebabkan harga minyak meroket, meningkatkan kekhawatiran tentang keandalan energi tradisional," kata Fan.

"Ini akan semakin mendorong perusahaan AI di kawasan ini untuk melakukan diversifikasi ke bentuk energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan," ia memungkasi.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|