Jakarta, CNBC Indonesia - Beberapa waktu terakhir muncul narasi bahwa pelemahan nilai tukar rupiah merupakan berkah tersembunyi bagi perekonomian domestik kembali menjadi sorotan di sosial media.
Sejumlah influencer keuangan belakangan gencar mengedukasi publik dengan premis klasik yaitu depresiasi rupiah akan membuat produk Indonesia lebih murah di pasar global, sehingga mendongkrak ekspor.
Namun, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, secara tegas meluruskan bahwa logika tersebut keliru dan berpotensi menyesatkan pelaku usaha maupun masyarakat luas.
Secara teoritis, penurunan nilai mata uang memang memberikan windfall bagi para eksportir komoditas mentah berbasis sumber daya alam. Pendapatan ekspor yang berdenominasi US$ akan menghasilkan nilai rupiah yang jauh lebih besar saat dikonversi. Kendati demikian, Josua mengingatkan bahwa struktur perekonomian domestik tidak sesederhana itu karena industri manufaktur kita memiliki karakteristik supply chain yang sangat kompleks.
"Eksportir komoditas memang diuntungkan secara langsung. Tapi kita juga harus melihat sisi lainnya yaitu industri manufaktur yang harus mengimpor bahan baku terlebih dahulu sebelum mengekspor produk jadi, mereka justru akan terbebani oleh pelemahan rupiah," ujar Josua Pardede dalam sebuah diskusi bersama Bank Indonesia. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor inilah yang kerap diabaikan oleh para pembuat konten keuangan di media sosial.
Lebih jauh lagi, sebagian besar dari produk manufaktur yang mengandalkan bahan baku impor tersebut sebetulnya dialokasikan untuk memenuhi konsumsi domestik. Naiknya biaya produksi akibat pelemahan kurs pada akhirnya memicu tekanan imported inflation yang berpotensi mengikis daya beli masyarakat. Kondisi ini tentu dapat mengancam momentum pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini berada di kisaran 5,61%.
Oleh karena itu, Josua menekankan bahwa stabilitas nilai tukar jauh lebih krusial bagi dunia usaha ketimbang sekedar mengejar level kurs tertentu. Pelaku usaha membutuhkan kepastian pergerakan mata uang untuk melakukan perencanaan bisnis jangka pendek hingga menengah, seperti memesan bahan baku untuk 3 hingga 6 bulan ke depan. Tanpa adanya stabilitas, fluktuasi rupiah yang terlalu liar hanya akan menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar.
"Tugas Bank Indonesia bukan mengarahkan rupiah ke level tertentu. Tugas BI adalah menjaga stabilitas. Ini yang paling dibutuhkan para pelaku usaha yaitu kepastian dan stabilitas untuk perencanaan bisnis mereka" tegas Josua. Fenomena kehati-hatian ini sudah tercermin dari masih tingginya angka undisbursed loan di perbankan domestik yang berada di atas level 20%.
Pada akhirnya, menjaga stabilitas rupiah bukan berarti mengorbankan pertumbuhan ekonomi, melainkan prasyarat utama agar investasi asing maupun domestik dapat terus berjalan. Edukasi yang jujur mengenai struktur fundamental ekonomi nasional sangat diperlukan agar publik tidak terjebak dalam mitos semu bahwa melemahnya rupiah adalah sebuah keuntungan ekonomi.
(gls)
Addsource on Google

















































