Siksaan Batin: Alasan Ulama Salaf Paling Takut dengan Ayat ini

54 minutes ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah berfirman:

يُرِيدُونَ أَن يَخْرُجُوا۟ مِنَ ٱلنَّارِ وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنْهَا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

Yurīdụna ay yakhrujụ minan-nāri wa mā hum bikhārijīna min-hā wa lahum ‘ażābum muqīm.

“Mereka ingin keluar dari neraka, padahal mereka sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya, dan mereka memperoleh azab yang kekal.” (QS Al-Ma’idah: 37)

Ada ayat-ayat Alquran yang mengguncang hati manusia bukan karena panjang kalimatnya, melainkan karena kedahsyatan makna yang dikandungnya. Salah satunya adalah Surah Al-Ma’idah ayat 37. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang api neraka, tetapi tentang sesuatu yang jauh lebih mengerikan: hilangnya harapan untuk selamanya.

Di dunia, manusia masih mengenal akhir dari penderitaan. Orang sakit berharap sembuh. Orang miskin berharap cukup. Tawanan berharap bebas. Bahkan hukuman paling berat di dunia pun memiliki batas waktu. Tetapi Alquran menghadirkan gambaran yang berbeda tentang neraka: tempat di mana penderitaan tidak mengenal akhir, dan harapan tidak lagi memiliki pintu.

وَلَهُمْ عَذَابٌ مُّقِيمٌ

Wa lahum ‘ażābum muqīm.

“Dan bagi mereka azab yang kekal.”

Kata muqīm dalam ayat ini menjadi pusat kengerian tersebut. Dalam tafsir klasik, kata ini tidak sekadar berarti lama, tetapi menetap, terus berlangsung, tidak terputus, dan tidak berpindah. Azab itu tinggal bersama penghuninya sebagaimana bayangan yang tidak pernah meninggalkan tubuh.

Imam Ath-Thabari dalam Jami’ al-Bayan menjelaskan bahwa makna ‘ażābun muqīm adalah azab yang terus menetap atas mereka tanpa pernah berhenti atau diringankan. Tidak ada jeda, tidak ada istirahat, tidak ada kematian yang mengakhiri penderitaan.

Sementara Imam Al-Qurthubi dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an menafsirkan bahwa penghuni neraka akan terus berharap keluar, tetapi harapan itu selalu dipatahkan. Setiap kali mereka merasa mungkin ada jalan keluar, pintu itu tertutup kembali. Inilah salah satu bentuk azab batin paling dalam: harapan yang terus hidup hanya untuk dihancurkan kembali.

Ayat ini juga menggambarkan psikologi penghuni neraka:

يُرِيدُونَ أَن يَخْرُجُوا۟ مِنَ ٱلنَّارِ

Yurīdụna ay yakhrujụ minan-nār.

“Mereka ingin keluar dari neraka.”

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|