REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus kanker serviks di Indonesia masih menjadi tantangan kesehatan bagi perempuan, terutama karena banyak penderita baru menyadari penyakit tersebut setelah memasuki stadium lanjut. Rendahnya partisipasi skrining rutin disebut masih dipengaruhi rasa takut, ketidaknyamanan, hingga stigma sosial terhadap pemeriksaan organ reproduksi.
Kondisi tersebut mendorong hadirnya metode skrining Human Papillomavirus (HPV) secara mandiri atau self-collection yang dinilai dapat memperluas deteksi dini kanker serviks. Metode ini memungkinkan perempuan mengambil sampel sendiri menggunakan swab khusus tanpa pemeriksaan langsung oleh tenaga kesehatan.
PT Prodia Widyahusada Tbk bersama PT Roche Indonesia Diagnostics Division meluncurkan layanan skrining HPV mandiri bertajuk My HPV-Test sebagai bagian dukungan terhadap upaya eliminasi kanker serviks di Indonesia pada 2030.
Direktur Utama PT Prodia Widyahusada Tbk, Liana Kuswandi, mengatakan pendekatan skrining mandiri diharapkan dapat mendorong perempuan lebih rutin melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi.
“Kami ingin pengalaman skrining menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang rutin dan memberdayakan. Bersama Roche Indonesia, kami menghadirkan layanan yang memungkinkan perempuan Indonesia memiliki akses langsung untuk mengontrol kesehatan mereka,” ujar Liana dalam keterangan tertulis, Kamis (22/5/2026).
Menurut dia, layanan tersebut terintegrasi secara digital melalui aplikasi U by Prodia, mulai dari pemesanan alat pemeriksaan hingga akses hasil pemeriksaan.
Metode skrining ini menggunakan teknologi Real-Time PCR untuk mendeteksi 14 genotipe HPV risiko tinggi, termasuk HPV tipe 16 dan 18 yang berkaitan dengan mayoritas kasus kanker serviks.
Sementara itu, Direktur Diagnostics Division PT Roche Indonesia, Lee Poh Seng, mengatakan metode self-collection diharapkan dapat membantu mengatasi hambatan psikologis perempuan dalam melakukan skrining kanker serviks.
Ia menjelaskan Roche sebelumnya telah melakukan studi percontohan bersama Kementerian Kesehatan, Jhpiego, dan Bio Farma di Surabaya. Dari studi tersebut, sebagian besar target peserta disebut berhasil melakukan pemeriksaan mandiri dengan tingkat akurasi sampel yang tinggi.
“Inovasi self-collection membantu memberikan pilihan pemeriksaan yang lebih nyaman sehingga perempuan tidak menunda skrining,” kata Lee.

2 hours ago
1

















































