Jakarta, CNBC Indonesia — Harta para konglomerat menguap seiring dengan tren koreksi tajam terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada perdagangan sesi I hari ini, IHSG ditutup turun 206,81 poin atau -3,48% ke level 5.734,26.
Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi yang menghantam indeks sepanjang tahun ini. Secara year to date (ytd), IHSG mencatatkan koreksi akumulatif sebesar 33,68%.
Sementara itu, para konglomerat RI kompak mencatatkan penurunan pada pundi-pundi kekayaannya.
Seperti Prajogo Pangestu, yang sempat bertahan lama di antara urutan 30 terkaya sedunia versi Forbes, kini terlempar ke peringkat 178 sedunia. Di Indonesia, taipan petrokimia itu menduduki peringkat nomor satu dengan harta sebesar US$16,4 miliar. Dalam sehari terakhir, angka itu ambles 8,23%.
Di peringkat kedua, ada konglomerat batu bara Low Tuck Kwong dengan kekayaan sebesar US$14,2 miliar. Harta Low turun 0,44% dalam sehari terakhir.
Urutan ketiga ditempati oleh bos Grup Djarum, Robert Budi Hartono yang mencatatkan pundi-pundi sebesar US$13,8 miliar. Kekayaannya telah turun 7,53% dalam sehari.
Keempat, ada bos Grup Salim, Anthoni Salim yang mencatatkan harta sebesar US$10,1 miliar. Angka itu turun 4,31% dari sehari sebelumnya.
Selanjutnya, ada Sri Prakash Lohia, bos Grup Indorama. Pria berkebangsaan India yang merupakan WNI sejak tahun 1985 itu mencatatkan hartanya turun 0,05% menjadi US$8,6 miliar dalam sehari.
Berikutnya, ada pemilik Grup Mayapada, Tahir dan keluarga. Harta mereka tercatat ambles 6,21% menjadi US$8,3 miliar.
Di urutan selanjutnya, ada "Bill Gates"-nya Indonesia, Otto Toto Sugiri. Berbeda dengan konglomerat lainnya, harta pemilik DCI Indonesia itu justru baru tercatat naik 0,40% menjadi US$7,8 miliar.
Pemilik DCI Indonesia lainnya, Marina Budiman menyusul Toto. Kekayaannya juga naik 0,42% menjadi US$5,6 miliar.
Di urutan ke-9 adalah Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, bos Grup Harita. Pundi-pundi kekayaannya kini tercatat sebesar US$4,2 miliar, setelah turun 4,33%.
Peringkat ke-10 terkaya Indonesia adalah Sukanto Tanoto dengan harta US$4,1 miliar, bergerak stagnan di tengah gejolak pasar pekan ini. Sukanto adalah pemilik Royal Golden Eagle yang berbasis di Singapura.
(mkh/mkh)
Addsource on Google















































