Tantangan Sekolah Rakyat Teratasi, Pembelajaran Dinilai Makin Stabil

3 hours ago 1

Tantangan Sekolah Rakyat Teratasi, Pembelajaran Dinilai Makin Stabil Sekolah Rakyat yang tuntas direnovasi oleh Nindya Karya. ANTARA - HO/Nindya Karya

Harianjogja.com, BANDARLAMPUNG—Program Sekolah Rakyat (SR) yang digagas Kementerian Sosial (Kemensos) mulai menunjukkan perkembangan positif setelah melewati masa awal pelaksanaan yang penuh tantangan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut kondisi pembelajaran kini jauh lebih stabil dibandingkan dua bulan pertama pelaksanaan program.

Dalam kunjungannya ke Sekolah Rakyat di Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Minggu (26/4/2026), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa berbagai kendala yang sempat muncul di awal program kini mulai teratasi secara bertahap.

“Berbagai tantangan pada awal penyelenggaraan kini mulai teratasi. Bulan pertama dan kedua memang cukup berat, tetapi sekarang kondisinya jauh lebih baik,” ujar Mensos.

Ia menjelaskan, saat ini proses belajar mengajar sudah berjalan lebih efektif. Para guru dan siswa juga disebut mulai beradaptasi dengan lingkungan pendidikan berbasis sosial tersebut. Disiplin serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) juga mulai berjalan lebih konsisten.

“Alhamdulillah pembelajaran di sini berjalan dengan baik. Kami melihat langsung bagaimana guru mengajar, bagaimana kedisiplinan diterapkan,” tambahnya.

Menurut Gus Ipul, karakter siswa di Sekolah Rakyat sangat beragam. Sebagian besar berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan ada yang belum pernah mengenyam pendidikan formal sebelumnya. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik.

“Ada yang sudah setingkat SMA tapi belum bisa membaca, sementara yang lain cepat beradaptasi. Ini menjadi tantangan besar bagi guru,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengapresiasi kerja sama antara pemerintah daerah, kepala sekolah, dan tenaga pendidik yang terus berupaya menyesuaikan metode pembelajaran. Kemensos, lanjutnya, juga terus melakukan evaluasi berkala serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan.

Menariknya, sekitar 75 persen siswa Sekolah Rakyat disebut memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sementara 25 persen lainnya diarahkan untuk memasuki dunia kerja atau program pemberdayaan ekonomi.

“Sebagian ingin kuliah, sebagian lain kami arahkan ke dunia kerja termasuk koperasi desa yang sedang disiapkan,” kata Gus Ipul.

Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan salah satu solusi untuk menjangkau anak-anak yang putus sekolah, meski kapasitasnya masih terbatas. Pemerintah pusat dan daerah akan terus berkolaborasi agar program ini semakin luas dan efektif dalam menjawab persoalan pendidikan di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|