Jakarta,CNBC Indonesia - Thailand yang selama ini dikenal sebagai basis produksi otomotif Jepang kini menghadapi tantangan baru. Beberapa pemain besar mulai mengurangi aktivitas atau bahkan hengkang dari negara tersebut akibat penetrasi masif mobil listrik China beberapa tahun lalu.
Misalnya pabrik Suzuki yang hengkang sejak tahun 2025 lalu. Sebelumnya, Subaru juga sudah mengumumkan penghentian operasi pabrik di Thailand.
Bagaimana kondisi ketenagakerjaan otomotif Thailand?
Salah satu yang bisa jadi sorotan adalah soal penggunaan robot dampaknya pada tenaga kerja di Thailand. Masuknya robot dan teknologi otomatisasi ke industri otomotif sering kali dikaitkan dengan pemutusan hubungan kerja. Namun tidak semua perusahaan melihatnya sebagai ancaman bagi tenaga kerja.
AutoAlliance Thailand (AAT) yang merupakan perusahaan patungan (joint venture) perakitan mobil antara Ford Motor Company dan Mazda Motor Corporation mencoba pendekatan berbeda. Perusahaan ini justru menekankan bahwa teknologi digunakan untuk mendukung pekerja, bukan menggantikan mereka.
Transformasi ini terjadi seiring target produksi yang tinggi dan tuntutan efisiensi. AAT yang merupakan salah satu produsen kendaraan besar di Thailand sendiri menargetkan produksi hingga 150.000 unit kendaraan dalam satu tahun.
Dalam menjalankan operasionalnya, perusahaan mengklaim membuka komunikasi secara transparan kepada karyawan dan serikat pekerja. Target produksi dibagikan secara detail agar semua pihak memahami arah perusahaan.
"Ketika robot atau co-bot masuk, kami menjelaskan dengan jelas kepada karyawan bahwa mereka akan dipindahkan ke pekerjaan dengan tanggung jawab lebih tinggi," ujar Vice President (Human Resources) AAT Satirayuth 'Max' Sangsuan dilansir dari podcast Organisasi Perburuhan Internasional (ILO).
Ia menegaskan bahwa teknologi tidak pernah dijadikan alasan untuk melakukan pemutusan hubungan kerja.
"Kami tidak pernah mengatakan bahwa dengan adanya robot, karyawan akan diberhentikan. Justru mereka akan mendapatkan peran yang lebih penting," katanya.
Menurutnya, pengalaman karyawan menjadi aset utama perusahaan dalam menjaga kualitas produksi.
"Kami membutuhkan tenaga kerja berpengalaman untuk menghasilkan kendaraan terbaik bagi pelanggan di seluruh dunia," jelasnya.
Selain itu, perusahaan juga mengubah pendekatan dalam hubungan industrial. Negosiasi tidak lagi dipandang sebagai konflik, melainkan diskusi konstruktif.
"Kami mengubah mindset dari negosiasi menjadi diskusi konstruktif. Dengan begitu, kedua pihak bisa mencapai solusi yang saling menguntungkan," ujar Max.
Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan stabilitas dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Hubungan yang sehat antara manajemen dan pekerja menjadi fondasi utama.
Dalam situasi industri yang penuh tekanan, strategi ini menjadi contoh bagaimana teknologi dan tenaga kerja bisa berjalan berdampingan. "Kami percaya bahwa perusahaan tidak akan berhasil tanpa karyawan. Semua orang adalah bagian penting dari kesuksesan AAT," sebut Max.
(hoi/hoi)
Addsource on Google


















































