Jakarta, CNBC Indonesia- Teknologi membuat penjahat ransomware semakin pintar dalam melancarkan aksinya. Keberadaan mereka sulit dilacak oleh penegak hukum sebab para pelaku menggunakan teknologi canggih seperti mata uang kripto, enkripsi, dan The Onion Router (TOR) atau jalur komunikasi anon
Umumnya, serangan ransomware akan menargetkan sistem perusahaan, bukan individu. Terutama perusahaan yang memegang data sensitif pelanggan seperti layanan perbankan.
Data center Cyber security Program and Product Manager Uptime Institute, Lanre Rotimi mengungkap bahwa dalam dua tahun terakhir serangan siber menempati posisi teratas sebagai salah satu penyebab terbesar gangguan data center.
"Kami juga melihat jenis serangan pusat data, sering kali berupa ransomware," ungkap dia dalam Tech and Telco Forum dengan tema "Building a Safer Digital Nation: From Connectivity to Cyber Resilience", Rabu (6/5/2026).
Lanre memaparkan OT (Technology Operational), seperti sistem pengelolaan baterai dan akses jarak jauh menjadi titik masuk yang sangat mudah bagi penyerang. Hal ini karena sistem tersebut tidak dikelola seketat sistem IT biasa.
"Mereka ingin mengendap di jaringan pusat data dan mencari celah apa pun agar mereka dapat melakukan kejahatan mereka," tegas Lanre.
Adapun para penyerang bukan berasal dari kelompok amatir. Menurut dia, mereka adalah kelompok Advanced Persistent Threats (APT) yang didukung negara (nation-state) dan bekerja secara profesional.
"(Kelompok peretas) yang memiliki sumber daya. Mereka bekerja dalam giliran (shift). Mereka memakai jas dan dasi dan pergi ke kantor setiap hari," ungkap Lanre.
Sebagai informasi, ransomware adalah jenis malware yang fokus mengunci akses dengan sistem enkripsi, sehingga korban tak bisa melakukan transaksi atau pengambilan dana. Jika tak membayar tebusan, peretas biasanya akan mengancam membongkar celah keamanan atau data sensitif nasabah ke forum publik.
Faktor lain yang menyebabkan ransomware makin berkembang adalah munculnya Raas (ransomware as a service). Metodenya, ada grup ransomware yang membuat lisensi dan memungkinkan orang awam tanpa pengetahuan teknis untuk memakai jasa mereka dan melakukan serangan ransomware.
Pada periode Januari hingga April 2025, insiden ransomware global mengalami peningkatan sebesar 86%. Adapun Februari mencatat rekor tertinggi.
Serangan ransomware besar menimpa berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pemerintahan, transportasi, hingga ritel internasional. Tidak hanya menyerang sistem, tapi juga mengguncang kepercayaan publik dan menimbulkan kerugian miliaran dolar.
(dpu/dpu)
Addsource on Google
















































