
Harian Jogja/Khairul Ma\'arif - Es tape Rubingin yang nampak sibuk menyiapkan pesanan karena didatangi sejumlah pembeli
Harianjogja.com, KULONPROGO—Di bawah rindangnya pepohonan di tepi Jalan Brosot-Nagung, Panjatan, Kulonprogo, sebuah gerobak es tape masih setia melayani pembeli setelah 51 tahun. Rubingin, 74, tetap mendorong gerobaknya ke lokasi yang dikenal dengan sebutan Buk Begal untuk menjajakan minuman racikannya.
Rubingin mulai berjualan es tape di lokasi tersebut sejak 1975. Hingga kini, usaha yang dirintisnya sejak usia muda itu masih menjadi tumpuan hidup keluarga sekaligus telah diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari Rp15 hingga Rp4.000 per Gelas
Rubingin mengaku belajar membuat es tape dengan memperhatikan pembuat es di kawasan Beskalan. Dari sana, ia kemudian meracik sendiri resep yang menjadi ciri khas dagangannya hingga dikenal masyarakat sekitar.
Ketika pertama kali berjualan pada 1975, harga es tape buatannya hanya Rp15 per gelas. Sementara itu, roti yang dijualnya kala itu dihargai Rp5.
"Awal jualan tahun 1975 itu harganya masih Rp15 per gelas, dan rotinya Rp5," kenang Rubingin saat ditemui, Jumat (11/9/2026).
Seiring berjalannya waktu dan dinamika ekonomi, harga es tape Rubingin kini menjadi Rp4 ribu per gelas.
Tetap Bertahan di Buk Begal
Nama Buk Begal sendiri merupakan julukan untuk lokasi tersebut yang konon dahulu dikenal rawan karena sering terjadi pembegalan. Rubingin membenarkan cerita tersebut, tetapi kondisi itu tidak membuatnya meninggalkan tempat berjualan.
Ia memilih tetap berjualan pada siang hari. Selain faktor keamanan, lokasi di tengah area persawahan tersebut juga memberikan suasana sejuk bagi warga maupun pejalan kaki yang ingin beristirahat sambil melepas dahaga.
Bagi pengendara yang melintasi Jalan Brosot-Nagung dari arah barat maupun timur, gerobak es tape Rubingin menjadi salah satu pemandangan yang mudah ditemui.
Selama 51 tahun menjalankan usaha, es tape tersebut menjadi sumber penghidupan keluarganya. Dari usaha itu, Rubingin mampu membesarkan sekaligus menyekolahkan ketiga anaknya.
Kini, resep dan semangat berjualan yang dimilikinya mulai diteruskan oleh generasi penerus, termasuk anaknya.
Sehari Bisa Ludes 400 Gelas
Meski telah berusia 74 tahun, Rubingin belum berhenti berjualan. Setiap hari ia masih rutin mendorong gerobaknya sejauh satu kilometer dari rumah menuju Buk Begal.
Semangat tersebut berbanding lurus dengan jumlah pembeli yang datang. Dalam sehari, Rubingin mengaku dapat menjual sekitar 400 gelas es tape.
"Sehari biasanya 400 gelas es tape terjual ludes," tuturnya.
Bagi Rubingin, mempertahankan usaha selama puluhan tahun bukan hanya soal terus berjualan. Kualitas rasa dan kesegaran es tape menjadi kunci agar pelanggan tidak kapok dan kembali membeli.
"Resepnya bikin es yang enak dan segar, jadi pembeli tuman dan kembali lagi. Selama masih diberi kesehatan, saya akan terus jualan," jelasnya.
Pelanggan Datang karena Rasa dan Suasana
Salah seorang pelanggan, Septi Adi, mengaku selalu menyempatkan mampir ke es tape Rubingin ketika melintas di Jalan Brosot-Nagung.
Seperti saat ditemui, Septi baru saja menghadiri acara nikahan rekannya. Setelah itu, ia menyempatkan diri mampir untuk menuntaskan dahaga.
Menurut Septi, rasa es tape Rubingin memiliki perbedaan dibandingkan es tape lain yang pernah dibelinya.
"Suasananya enak, di sini adem ada angin sejuk harganya pun terjangkau," tuturnya.
Di tengah perubahan zaman dan selera konsumen, Rubingin masih mempertahankan gerobak sederhana di Buk Begal. Selama kesehatan masih mendukung, ia memilih terus meracik dan menjajakan es tape yang telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak 1975.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
















































