Ahli Sebut Facebook Sekarang Sudah Seperti Zombie, Ini Alasannya

11 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemunculan Facebook 20 tahun lalu adalah momen penting bagi dunia internet. Media sosial itu jadi arti baru untuk terhubung dan komunikasi antar individu.

Pertama kali Facebook diluncurkan oleh pendirinya Mark Zuckerberg adalah untuk mahasiswa Harvard pada 2004. Secara bertahap diperluas ke mahasiswa di kampus lain, kemudian dirilis untuk umum pada 2006.

Sejak saat itu, perjalanan Facebook bisa dibilang cukup mulus. Misalnya menjalankan IPO pada 2012, hingga mengakuisisi dua bintang baru media sosial yakni Instagram dan WhatsApp.

Perkembangan Facebook dalam waktu singkat itu membuat perusahaan berubah menjadi salah satu raksasa media sosial di dunia.

Namun seiring berjalannya waktu, Facebook mulai ditinggalkan dengan upaya pengembangan ke arah yang berbeda, seperti mencoba masuk ke Metaverse dan belanja gila-gilaan pada AI.

Julia Angwin seorang jurnalis investigasi di New York Times berpendapat bahwa konsumen mulai tidak puas dengan Meta, nama baru Facebook sejak 2021. Pada akhirnya menjadi salah satu alasan pendapatan perusahaan menunjukkan tekanan.

"Pendapatan Meta mulai menunjukkan tekanan karena meningkatnya ketidakpuasan konsumen dan pengeluaran perusahaan yang boros selama bertahun-tahun," jelasnya dikutip dari Futurism, Selasa (12/5/2026). 

Bahkan dia menyamakan kondisi Facebook dengan kematian Yahoo dan AOL yang sempat jadi bintang internet di masa lalu. Meski perusahaan dan pengguna masih ada, banyak remaja sekarang tidak mau memiliki akun kedua platform itu.

"Seperti kata anak muda, mereka sangat memalukan. Banyak remaja tidak mau memiliki akun AOL, alamat email Yahoo, atau profil Facebook," lanjutnya. "Dan harga saham yang anjlok mengonfirmasi apa yang selama ini kita yakini dalam hati: Ini adalah perusahaan yang sedang memasuki era zombie," tulisnya.

Meta diketahui memang terus berupaya dalam pengembangan teknologi. Setelah VR yang gagal, kini perusahaan mencoba peruntungan pada AI.

Fokus Meta pada AI bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Sebab Zuckerberg sudah mendorong perusahaannya bersaing lebih ketat dalam AI generatif selama tahun lalu.

Salah satunya mencari orang-orang terbaik di bidang AI untuk bisa masuk ke Meta. Zuckerberg menawarkan paket gaji besar ratusan juta dolar selama empat tahun untuk masuk tim superintelijen perusahaan.

Meta juga telah menyiapkan uang untuk pengembangan AI. Misalnya US$600 miliar (Rp 10 ribu triliun) untuk membangun data center pada 2028, dan US$2 miliar (Rp 33,9 triliun) untuk membeli startup AI China bernama Manus.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|