Airlangga Buka Suara Soal Pangkas Outlook Rating Utang RI

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara perihal rilis Fitch Ratings terkait dengan peringat utang Indonesia.

Lembaga pemeringkat global yakni Fitch Ratings memangkas outlook atau prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski level peringkatnya tetap dipertahankan di BBB atau masih berada pada kategori investment grade. Ini berarti posisi utang RI masih dinilai layak investasi.

Dalam penilaian tersebut, Fitch menilai perubahan outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan serta berkurangnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan Indonesia. Fitch juga menyoroti risiko pelonggaran kebijakan yang terlalu agresif di tengah ambisi pertumbuhan ekonomi yang tinggi, potensi tekanan pada fiskal, sentimen investor, hingga cadangan eksternal.

Airlangga pun menegaskan peringatan yang diberikan Fitch untuk Indonesia akan dipelajari lebih lanjut oleh pemerintah. Terkait dengan penerimaan negara yang dikhawatirkan Fitch, Airlangga mengatakan pemerintah sudah memahami itu.

"Itu untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan. Dan tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah di segi penerimaan. Pemerintah sudah paham itu," papar Airlangga.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong implementasi Coretax System di Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ini akan dikawal terus guna meningkatkan rasio pajak RI.

Fitch memproyeksikan defisit fiskal sebesar 2,9% dari PDB pada tahun 2026, tidak berubah dari tahun 2025 dan di atas target pemerintah sebesar 2,7%. Kondisi ini dipengaruhi oleh penerimaan negara yang masih moderat, yakni penerimaan pajak.

Terkait dengan MBG, Airlangga menegaskan pemerintah belum akan melakukan evaluasi terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG). Pasalnya, program ini baru berjalan.

"Jadi kalau berjalan ya terus kita roll out," katanya.

Dia pun menegaskan studi Bank Dunia dan Rockefeller Foundation menilai program ini cukup masih dan berdampak pada ekonomi. Salah satunya, Rockefeller Instituteyang memperkirakan setiap investasi MBG US$ 1 akan menghasilkan dampak ekonomi hingga US$ 7.

"Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu bahkan Amerika pun melakukan itu sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term," katanya.

Dalam laporannya, Fitch menyoroti beban defisit fiskal yang diperburuk oleh potensi besarnya belanja negara untuk pengeluaran sosial yang lebih tinggi, termasuk program makanan bergizi gratis (total sebesar 1,3% dari PDB untuk tahun 2025-2029).

"Rencana untuk mempercepat pengeluaran pada semester pertama tahun 2026 dapat menambah risiko penyimpangan fiskal," ucap Fitch.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|