Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membeberkan situasi dunia saat ini yang penuh gejolak akibat perang di Timur Tengah.
Perry mengatakan bahwa situasi dunia semakin memburuk dan memberi efek negatif kepada ekonomi serta keuangan global. Hal ini disampaikan saat rapat bersama Komisi XI DPR RI pada Rabu (8/4/2026).
"Beberapa perkembangan terkini yang memang perlu kami laporkan karena karena dunia kondisinya semakin memburuk di tengah ada kebijakan tarif resiprokal, ada perang antara Amerika Serikat, Israel dengan Iran yang kemudian kita sudah banyak tahu berdampak kepada ekonomi dan keuangan global, baik jalur komoditas finansial maupun perdagangan," ucapnya.
Perry mengatakan paling cepat terasa adalah efek dari jalur komoditas yakni meningkatnya harga minyak, harga komoditas di dalam perdagangan, dan terganggunya rantai pasok.
Demikian juga jalur finansial adanya ketidakpastian keuangan global yang secara keseluruhannya beberapa indikator menunjukkan bagaimana harga minyak meroket sejak Februari - Maret.
Hingga kemarin pernah mencapai posisi tertinggi US$122 per barel. Namun kemudian turun dan terjadi volatilitas.
"Dampaknya juga meningkatnya suku bunga atau yield US treasury obligasi pemerintah Amerika, baik 2 tahun maupun 10 tahun," ucap Perry.
"Tahun lalu itu yang 2 tahun itu terus menurun, yang 10 tahun menurun, tapi tidak terlalu cepat. Tapi dengan adanya perang di Timur Tengah ini kemudian 2 duanya meningkat pesat. Karena apa? Karena kenaikan defisit fiskal Amerika Serikat, termasuk untuk anggaran perang kelihatan di sana yang menyebabkan ini akan berdampak kepada Indonesia," lanjutnya.
Gubernur BI menjelaskan efek gejolak yang terjadi akan terasa ke Indonesia lewat dua saluran, yakni fiskal dan moneter. Harga minyak naik akan berdampak ke fiskal dan kenaikan yield obligasi akan berdampak ke outflow dana asing dan penguatan dolar AS.
"Sejak tahun ini terjadi outflow yang besar dari emerging market ke pasar keuangan dunia baik dalam bentuk obligasi saham maupun yang lain. Lalu terjadi penguatan dolar AS yang membuat kenapa memang dari sisi bank Indonesia kami perlu merekalibrasi berbagai kebijakan kebijakan yang kami lakukan," katanya.
Kebijakan tersebut, lanjut Perry membuat peluang suku bunga untuk turun semakin sempit.
"Meskipun BI Rate kami pertahankan 4,75%, nampaknya ke depan untuk ruang penurunannya kemungkinan makin lama semakin tertutup dan kami pun juga harus kemudian menyikapinya untuk menggunakan untuk stabilitas," ucapnya.
Kedua adalah untuk tahun 2026 ini BI akan menaikkan SRBI untuk menarik inflow dan stabilitas rupiah.
"Kedua, SRBI yang tahun lalu kami mampu kita turunkan secara cepat. Ini memang harus kita lakukan recalibrasi supaya memang menarik inflow tapi tetap kecukupan likuiditas perbankan kita jaga m-nol nya," imbuhnya.
Di tengah gejolak itu, BI tetap pertahankan outlook pertumbuhan kredit tetap double digit di 13,3% supaya kecukupan likuiditas tercapai.
BI juga terus membeli SBN dari pasar sekunder. Tahun ini kami year to date nya sudah membeli Rp 90,05 triliun.
"Ini beberapa rekalibrasi di mana kebijakan moneter memang bobotnya sekarang lebih banyak untuk pro stability."
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
















































