Eko Suryo Pranoto
Agama | 2026-08-07 07:18:15
Hidup di dunia sering kali kita melakukan perjalanan, berkendara, berpindah dari satu kota ke kota lain, mengarungi lautan dari satu negeri berpindah ke negeri yang lain, terbang di angkasa bersama pesawat menuju tempat-tempat yang kita cari, setiap kita melakukan perjalanan dalam kehidupan ini, selalu ada harapan di hati kita untuk kembali ke kampung halaman, berkumpul bersama keluarga, anak, istri, karib-kerabat, sahabat dan handai-taulan.
Tapi pernahkan terpikir oleh mu wahai saudaraku, setiap kita pasti akan menempuh perjalanan, dan perjalanan itu, tidak akan mungkin kita kembali di dunia ini, perjalanan yang sangat panjang tanpa ditemani oleh istri, anak, orang tua, karib sahabat dan teman dekat.
Perjalanan yang sangat jauh, dan tidak akan kembali lagi ke dunia, membawa bekal yang sedikit, perjalanan tersebut adalah perjalanan kematian, perjalanan menuju kampung akhirat, dan itu sebuah kepastian, كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ “Setiap yang bernyawa/setiap yang hidup pasti akan merasakan mati” (QS Al-Ankabut: 57), semua makhluk fana tinggallah yang kekal dan abadi Allah Tabarakallahu Taala كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ , “Semua yang ada di bumi itu akan binasa” (QS: Ar-Rahman: 26).
Saat perjalanan panjang tersebut akan dimulai, manusia mulai menyadari bahwa dia akan menempuh perjalanan yang tidak mungkin lagi dia kembali, ketika itu dia berharap berangan, tetapi angan-angan sebatas angan-angan, harapan yang tidak akan terwujud. Allah Tabarakkallah Taala menceritakan kondisi orang-orang yang selama ini disibukan oleh perjalanan dunia, lupa perjalanan yang jauh ini menuju akhirat.
Ketika perjalanan menuju akhirat, apa kata Allah? sehingga apabila kematian datang kepada salah seorang mereka, mereka pun berkata ya Allah kembalikan aku ke dunia, untuk apa saudaraku? Apakah dia berharap kembali berkumpul dengan anak istrinya? Apakah dia berharap untuk menduduki jabatannya di dunia? Apakah dia berharap kembali dikerumuni pengikutinya yang dianggapnya setia? tidak! dia berharap kembali ke dunia untuk bisa beramal shaleh sujud kepada Allah Tabarakallah Taala, حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُوْنِ ۙ99. (Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), لَعَلِّيْٓ اَعْمَلُ صَالِحًا فِيْمَا تَرَكْتُ كَلَّاۗ اِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَاۤىِٕلُهَاۗ وَمِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ بَرْزَخٌ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ 100. agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak!
Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.(QS Al-Mu’minun: 99-100) Sekedar kata-kata, sekedar impian, sekedar angan-angan. Itu tidak mungkin terwujud lagi
Dibelakang mereka ada tabir, sampai hari kebangkitan, mereka ingin kembali ke dunia untuk beribadah kepada Allah Tabarakallahu Wataala, tapi itu tidak mungkin lagi, dahulu dia diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali dari kelalaian, dari kelengahan, dari kekufuran kepada keimanan, kembali dari kesesatan ke jalan yang lurus, kembali dari kebatilan kepada kebenaran, kembali dari kelalaian kepada ketaatan, tetapi dia tidak kunjung sadar, tidak kunjung bangun dari tidur panjangnya, kelalian karena dunia, akhirnya yang tinggal hanya penyesalan, perjalan yang panjang ini wahai saudaraku, yang diawali dengan kematian dan dilanjutkan dialam barzah, setelah itu dibangkitkan kelak di yaumil qiamah, dikumpulkan di yaumil mahsyar, dan kelak akan berakhir di surga atau neraka.
Beruntungalah orang-orang yang ketika di dunia berjuang menundukkan hawa nafsunya, agar bisa tunduk dan patuk kepada Allah , beriman kepada Allah, beriman kepada Rasulullah, menempuh jalan yang lurus, beramal shaleh, berpegang teguh hingga akhir hayatnya, merugi orang-orang yang dahulu kufur terhadap Allah Tabarakallahu Wataala, menjadikan tandingan-tandingan, menyekutukan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya, merugi orang-orang yang dahulu tidak menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan, tidak mengikuti jalannya, menempuh jalan-jalan yang menyimpang dari jalannya, ketika itu orang-orang yang dzalim, orang-orang yang kafir, orang-orang yang sesat, orang-orang yang durhaka, mereka semua menggigit tangannya kedua tangannya, bukan lagi menyesal menggigit satu jari wahai saudaraku, menggigit dua tangan, saking menyesalnya, karena dahulu tidak beriman dan tidak bertakwa, tidak mengikuti Rasulullah.
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا . Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. (QS Al-Furqon: 27) ketika itu mereka menyesal dan berkata, andai saja dahulu ketika di dunia aku menenpuh jalan bersama Rasulullah tetapi tinggallah itu hanya kenangan, impian yang sirna, ketika mereka dicampakkaan kedalam api neraka, mereka menyesal telah mengikuti syaithon telah mengikuti pemimpin-pemimpin yang sesat, telah mengikuti orang-orang yang menyimpangkan mereka dari jalan Allah, dan yang lebih parah lagi, apabila mereka dicampakkan ke dalam neraka oleh Allah, maka mereka akan menangis, sampai kering air matanya berganti dengan air mata darah, menyesali perbuatan.
Ingatlah wahai saudaraku, kita semua pasti akan menempuh perjalanan tersebut, tetapi kita tidak mengetahui kapan perjalanan itu dimulai, bisa sekarang, nanti, atau lusa, yang menjadi masalah adalah, sudahkah kita memiliki bekal untuk menempuh perjalan tersebut? sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menempuh perjalanan tersebut dengan diawali kematian, kemudian menghadapi pertanyaan-pertanyaan malaikat di alam barzah?
Setelah itu sudahkah kita memiliki bekal untuk menghadapi Yaumil Mahsyar yang begitu panjang, mengerikan dan dahsyat? dimana matahari didekatkan kepada kepala manusia, sudahkah kita mempersiapkan diri kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Allah ketika kita ditegakkan dihadapan-Nya? Fulan bin fulan, fulanah binti fulan, lalu dihadapkan, dihadapan Allah, anggota tubuh kita semuanya bersaksi.
Sudahkah kita mempersiapakan untuk hari itu? Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk melewati titian yang berakhir di surga, atau tergelincir di neraka? Jika kita akan melaksanakan perjalanan di dunia selalu bersiap-siap, menyiapkan bekal, pakaian dan lainnya. Itu adalah perjalanan fana, ini adalah perjalanan yang kekal dan abadi, tidak ada tempat di sana, kecuali surga atau neraka, jika kita beruntung kita akan masuk surga, jika kita tergelincir maka akan masuk neraka.
Mudah-mudahan rahmat Allah menyertai setiap langkah kita, mudah-mudahan Allah membimbing kita, kepada jalan yang lurus, meneguhkan kita diatas jalan yang haq, memberikan kita husnul khotimal, serta keteguhan dalam kehidupan dunia maupun setelah kematian, persiapkan dirimu wahai saudaraku! persiapkan bekal untuk melanjutkan perjalanan ke kampung akhirat.
Perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan ke kampung akhirat. (Foto Pribadi)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
4










































