Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi jagung pipilan kering kadar air 14% (JPK KA 14%) sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai 8,33 juta ton, atau turun 0,23 juta ton (2,69%) dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya produksi pada Maret serta prospek April-Juni, yang dipicu oleh menyusutnya luas panen.
Secara bulanan, produksi jagung pada Maret 2026 diperkirakan sebesar 1,40 juta ton, turun dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 1,64 juta ton. Penurunan ini terjadi sejalan dengan berkurangnya luas panen pada periode yang sama.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, penurunan produksi jagung di Maret 2026 tidak terlepas dari luas panen yang lebih kecil.
"Sejalan dengan gambaran luas panen untuk yang produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% pada kondisi Maret 2026 diperkirakan mencapai 1,40 juta ton, lebih rendah jika dibandingkan pada bulan Maret tahun 2025, yang besarnya 1,64 juta ton," ungkap Ateng dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).
Dari sisi luas panen, BPS mencatat luas panen jagung pipilan pada Maret 2026 sebesar 0,25 juta hektare, turun dari 0,29 juta hektare pada Maret 2025.
"Berdasarkan hasil pengamatan KSA di bulan Maret tahun 2026, ini luas panen jagung pipilan pada Maret 2026 mencapai 0,25 juta hektare. Angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2025 yang mencapai 0,29 juta hektare," paparnya.
Untuk periode berikutnya, potensi luas panen April-Juni 2026 diperkirakan mencapai 0,66 juta hektare, atau naik tipis 0,57% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun secara kumulatif, luas panen Januari-Juni 2026 diperkirakan mencapai 1,46 juta hektare, turun 2,51% secara tahunan.
"Potensi luas panen jagung pipilan pada kondisi April sampai dengan Juni tahun 2026 ini diperkirakan mencapai 0,66 juta hektare atau naik sebesar 0,57% dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025," jelas dia.
"Dengan demikian, total luas panen jagung pipilan sepanjang Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 1,46 juta hektare atau mengalami penurunan sebesar 0,04 juta hektare, atau menurun sekitar 2,51% dibandingkan dengan periode Januari sampai dengan Juni tahun 2025," sambungnya.
BPS menilai, penurunan kumulatif luas panen ini yang kemudian menekan produksi semester I-2026.
Untuk periode April-Juni 2026, produksi jagung diperkirakan mencapai 3,77 juta ton, turun 1,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga total produksi semester I-2026 menjadi 8,33 juta ton.
"Potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% pada bulan April sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 3,77 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 0,04 juta ton atau menurun 1,17% jika dibandingkan dengan periode April-Juni tahun 2025 yang lalu," jelas Ateng.
Dengan demikian, produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14% sepanjang bulan Januari sampai dengan Juni tahun 2026 diperkirakan mencapai 8,33 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 0,23 juta ton. Angka ini menurun sebesar 2,69% jika dibandingkan dengan Januari sampai dengan Juni tahun 2025.
Ateng menegaskan, angka potensi luas panen maupun produksi masih dapat berubah mengikuti kondisi di lapangan, mulai dari serangan hama, banjir, kekeringan hingga waktu panen petani.
"Potensi luas panen termasuk tanaman jagung akan dipanen bukan untuk pipilan, misalnya yang dipanen muda atau dipanen untuk hijauan pakan ternak. Angka potensi ini tentunya akan berubah, tergantung pada beberapa kondisi terkini hasil amatan lapangan," pungkasnya.
Foto: Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat menyampaikan Rilis BPS terkait Produksi Jagung Pipilan Kering Kadar air 14% (JPK KA14%) periode 2024-2026 di Jakarta, Senin (4/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/BPS Statistics)
(dce)
Addsource on Google


















































