Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 18 Orang, 384 Pelancong Hilang

4 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026), membawa material sedimen dan merusak sejumlah infrastruktur. Sedikitnya 18 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 384 pelancong masih belum diketahui keberadaannya di tengah operasi pencarian yang terus berlangsung.

Bencana terjadi di sepanjang Sungai Bhote Koshi yang mengalir dari wilayah Tibet menuju Nepal. Dampaknya meluas hingga kawasan hilir Sungai Bhote Koshi dan Sungai Trishuli, termasuk wilayah Rasuwa di sebelah utara Kathmandu.

Kerusakan dilaporkan terjadi pada jembatan, bangunan, jalan, hingga fasilitas lainnya. Akses menuju sejumlah lokasi terdampak juga terputus karena infrastruktur rusak, sementara gangguan komunikasi dan listrik menyulitkan proses evakuasi.

Ratusan Pelancong Belum Ditemukan

Data awal Nepal Tourism Board mencatat 384 pelancong belum diketahui keberadaannya. Dari jumlah itu, 291 merupakan warga negara asing dan 93 lainnya warga Nepal.

Data tersebut masih diverifikasi oleh otoritas Nepal bersama perusahaan perjalanan, pemandu wisata, pemerintah daerah, serta aparat keamanan. Karena proses pendataan belum selesai, jumlah korban maupun orang yang hilang masih berpotensi berubah.

Pelancong yang dilaporkan hilang berasal dari sejumlah negara, antara lain Inggris, Amerika Serikat, Malaysia, Afrika Selatan, India, Australia, dan Belanda.

Data awal dari perusahaan perjalanan menunjukkan terdapat 105 warga negara India dan 12 warga Inggris dalam daftar orang yang belum ditemukan.

Sebelumnya, militer Nepal menyatakan telah menyelamatkan 88 orang. Namun, upaya menuju beberapa kawasan terdampak masih menghadapi kendala akibat jalan dan jembatan yang rusak.

Jalan Menuju Kathmandu Ditutup

Rasuwa merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan Tibet dan berada di sebelah utara Kathmandu. Setelah banjir menerjang, sejumlah kawasan di sepanjang sungai berada dalam kondisi siaga karena masih terdapat ancaman banjir susulan.

Jalan utama menuju Kathmandu dilaporkan ditutup akibat kerusakan infrastruktur. Kondisi ini membuat proses pencarian dan penyelamatan menjadi lebih sulit, terutama di lokasi yang akses daratnya terputus.

Rekaman yang telah diverifikasi memperlihatkan derasnya aliran air membawa sedimen dan menghantam bangunan maupun jembatan. Dalam salah satu video yang diverifikasi BBC Verify, sebuah jembatan di Trishuli Bazaar, Distrik Nuwakot, Provinsi Bagmati, tampak terlepas dari penyangga dan terseret arus.

Lokasi tersebut berada sekitar 25 kilometer sebelah barat laut Kathmandu. Dalam rekaman, permukaan Sungai Trishuli terlihat meningkat secara drastis sebelum arus membawa material menerjang berbagai infrastruktur di bantaran sungai.

Rekaman lain memperlihatkan kondisi kawasan setelah banjir. Sejumlah bangunan di dekat sungai terlihat runtuh, hilang, atau tertutup material sedimen.

Truk Kontainer dan Proyek PLTA Rusak

Dampak banjir juga dirasakan oleh pelaku usaha yang memiliki aktivitas di kawasan terdampak. Yee Liang, pengusaha Tiongkok yang berbasis di Kathmandu, mengatakan perusahaannya memiliki tujuh truk kontainer yang dioperasikan karyawan berkewarganegaraan Nepal.

“Kami telah kehilangan kontak dengan mereka semua. Tidak ada sinyal, jadi kami tidak dapat menghubungi siapa pun,” katanya.

Menurut Yee Liang, tidak ada peringatan yang diterimanya sebelum bencana terjadi.

“Sejauh yang saya tahu, tidak ada peringatan sebelumnya. Memang ada longsor lumpur dan tanah sesekali, terutama di musim hujan, tetapi yang ini tampaknya jauh lebih serius,” jelasnya.

Kerusakan juga terjadi pada proyek pembangkit listrik tenaga air Trishuli. Besarnya kerusakan di sejumlah lokasi belum dapat dipastikan karena akses menuju kawasan terdampak masih terputus.

Aparat Nepal Ikut Dilaporkan Hilang

Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Rajarm Basnet, mengatakan upaya penyelamatan dilakukan terhadap 115 orang dari Desa Mailung. Kementerian Dalam Negeri Nepal juga memperingatkan potensi korban dalam jumlah besar di Timure, Syabrubesi, dan Betrawati.

Menteri Luar Negeri Nepal Shishir Khanal menyampaikan bahwa 26 personel polisi, sembilan petugas polisi bersenjata, dan 44 anggota militer Nepal juga dinyatakan hilang.

Jumlah itu memperlihatkan bahwa bencana turut berdampak terhadap aparat yang berada di wilayah terdampak. Operasi pencarian masih dilakukan untuk mengetahui keberadaan mereka.

Di sisi Tibet, skala kerusakan juga belum diketahui secara menyeluruh. Guan Daoxuan yang berada di Provinsi Sichuan mengatakan kehilangan kontak dengan istrinya pada Rabu pagi.

Istrinya bekerja untuk perusahaan konstruksi milik negara yang terlibat dalam pembangunan jalan dan jembatan di Tibet. Terputusnya akses ke sejumlah kawasan membuat pemantauan dari darat menghadapi kendala.

Gempa Diduga Picu Banjir Bandang

Pejabat Nepal menyebut bencana kemungkinan berkaitan dengan gempa bumi yang kemudian memicu longsoran es dan material salju. Material dari wilayah hulu diduga masuk ke aliran sungai sehingga menyebabkan volume air meningkat secara tiba-tiba.

Shishir Khanal mengatakan kepada parlemen bahwa gempa terjadi pada pukul 08.37 waktu setempat. Gempa tersebut diduga memicu longsoran yang kemudian berkontribusi terhadap terjadinya banjir bandang.

Meski demikian, rangkaian penyebab bencana belum dapat dipastikan sepenuhnya. Laporan lain menyebut longsoran batu dan es di wilayah hulu juga berpotensi menyebabkan peningkatan aliran air secara mendadak.

Otoritas manajemen bencana Nepal meminta masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta mengikuti arahan petugas dan mengambil langkah pencegahan untuk menghadapi kemungkinan banjir susulan.

Pemerintah Nepal Kerahkan Tim Penyelamatan

Perdana Menteri Nepal Balendra Shah mengatakan pemerintah telah mengoordinasikan penanganan bencana dengan berbagai unsur. Tim medis, pramuka, Palang Merah, aparat keamanan, serta lembaga terkait dilibatkan dalam penanganan di lapangan.

“Upaya telah dimulai untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam koordinasi dengan tim medis, pramuka, dan Palang Merah,” kata Shah melalui unggahan di media sosial setelah menggelar pertemuan darurat untuk meninjau situasi.

Pencarian dan penyelamatan masih berlangsung di tengah kondisi medan yang sulit. Pemerintah Nepal bersama aparat keamanan dan lembaga terkait terus berupaya menemukan warga maupun wisatawan yang belum diketahui keberadaannya.

Bencana kali ini terjadi sekitar setahun setelah Rasuwa dilanda banjir besar yang menewaskan 18 orang akibat jebolnya gletser di sisi perbatasan Tiongkok. Pejabat setempat memperkirakan dampak banjir pada Rabu kali ini dapat lebih besar dibandingkan bencana yang terjadi tahun lalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|