Bank Dunia: Tekanan Global Hantam Daya Beli dan Pertumbuhan

2 weeks ago 21

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan ekonomi global diperkirakan masih membayangi kawasan Asia Timur dan Pasifik sepanjang 2026. Kenaikan harga energi, konflik geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan menjadi faktor utama yang menahan pertumbuhan sekaligus menekan daya beli masyarakat.

Dalam paparan World Bank, Kepala Ekonom Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo menyebut sebagian besar negara di kawasan akan mengalami perlambatan ekonomi pada tahun ini.

“Sebagian besar negara akan tumbuh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya,” ujarnya dikutip Kamis (9/4/2026).

Menurut dia, lonjakan harga minyak dan gas menjadi pemicu utama tekanan tersebut. Kenaikan biaya energi mendorong ongkos produksi di berbagai sektor, yang kemudian menjalar ke harga barang dan jasa.

“Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi, termasuk energi, pupuk, dan pangan,” katanya.

Tekanan itu tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga langsung memengaruhi masyarakat. Jika harga energi bertahan tinggi, pendapatan tenaga kerja di kawasan diperkirakan bisa turun sekitar 3 hingga 4 persen.

Kelompok berpenghasilan rendah menjadi yang paling rentan karena sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk kebutuhan dasar. Namun, tekanan juga mulai dirasakan kelas menengah seiring meningkatnya biaya hidup.

Di sisi lain, ketidakpastian kebijakan global memperparah kondisi. Pelaku usaha cenderung menahan investasi dan lebih berhati-hati dalam ekspansi, sehingga memperlambat pemulihan ekonomi.

Kondisi tersebut turut berdampak pada pasar tenaga kerja. Perusahaan semakin memilih skema kerja fleksibel atau kontrak, yang mendorong peningkatan pekerjaan informal dan ekonomi gig. Di satu sisi memberi peluang, tetapi di sisi lain menghadirkan ketidakpastian pendapatan bagi pekerja.

Meski tekanan cukup besar, peluang tetap terbuka. Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai dapat menjadi sumber pertumbuhan baru di kawasan.

Namun, Bank Dunia mengingatkan kesiapan sumber daya manusia masih menjadi tantangan. Banyak tenaga kerja belum memiliki keterampilan dasar maupun kemampuan teknis yang dibutuhkan untuk memanfaatkan teknologi tersebut.

Tanpa perbaikan di sektor pendidikan dan pelatihan, potensi peningkatan produktivitas dari AI dikhawatirkan sulit tercapai.

Di tengah tekanan global yang belum mereda, masyarakat kini dihadapkan pada dua risiko sekaligus, yakni kenaikan biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|