Bank Sampah Purwokinanti Jogja Kini Terintegrasi Lewat Website Genhi

4 hours ago 4

Bank Sampah Purwokinanti Jogja Kini Terintegrasi Lewat Website Genhi

Website Genhi hadir untuk mengintegrasikan 10 bank sampah di Purwokinanti sekaligus memudahkan komunikasi dan pendaftaran nasabah. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA— Pengelolaan bank sampah di Kelurahan Purwokinanti, Kemantren Pakualaman, Kota Jogja, mulai diarahkan ke sistem digital melalui platform Genhi (Generasi Hijau). Website yang difasilitasi UIN Sunan Kalijaga ini dirancang untuk menghubungkan 10 bank sampah di Purwokinanti yang selama ini menjalankan pengelolaan secara mandiri.

Platform Genhi tidak hanya menjadi sarana informasi, tetapi juga dirancang sebagai ruang interaksi dan transparansi antar-pengelola bank sampah. Warga dan nasabah nantinya dapat melakukan pendaftaran secara digital tanpa terbatas sekat wilayah administratif.

Bank Sampah Purwokinanti Mulai Terhubung

Dosen UIN Sunan Kalijaga Rika Lusri Virga mengatakan pendampingan tersebut merupakan bagian dari KKN berkelanjutan. Sebelum mahasiswa diterjunkan, pemetaan persoalan di masyarakat dilakukan untuk memastikan program yang diberikan sesuai dengan kebutuhan warga.

Menurut Rika, Purwokinanti sebenarnya telah memiliki modal kuat dalam pengelolaan lingkungan. Kelurahan tersebut termasuk wilayah berprestasi yang kerap memperoleh penghargaan di bidang lingkungan dan memiliki bank sampah aktif di setiap Rukun Warga (RW).

Persoalannya, komunikasi dan pengolahan informasi antar-bank sampah belum terintegrasi secara digital. Kondisi itu membuat setiap bank sampah masih mengelola informasi dan aktivitasnya secara mandiri.

"Purwokinanti ini salah satu kelurahan yang memiliki bank sampah di setiap RW dan aktif. Hanya saja, bank sampah-bank sampahnya itu tidak terkoneksi. Padahal informasi terkait aktivitas mereka dibutuhkan, karena setiap bank sampah punya karakteristik masing-masing. Harusnya informasi edukasi terkait pengolahan itu disebarkan, sehingga bank sampah lain bisa studi tiru," kata Rika, Jumat (14/8/2026).

Melalui kepakarannya di bidang komunikasi dan media digital, Rika membantu merancang situs web Genhi sebagai platform yang mempertemukan informasi dan aktivitas antar-pengelola bank sampah.

Digitalisasi tersebut juga memungkinkan warga maupun nasabah mendaftar secara daring. Dengan demikian, akses terhadap bank sampah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada batas wilayah administratif.

Pendampingan UIN Sunan Kalijaga Berlanjut

Program tersebut tidak dirancang sebagai pendampingan satu kali. UIN Sunan Kalijaga menyiapkan pola KKN berkelanjutan agar proses pengembangan bank sampah dapat terus dipantau dan dikembangkan.

"Kami akan mengirimkan mahasiswa selama tiga tahun berturut-turut di titik yang sama tanpa mengganti DPL dan program kerja utama. Dengan begitu, pendampingan terhadap masyarakat bisa berjalan secara berkelanjutan," tambahnya.

Model pendampingan tersebut diharapkan membuat proses adaptasi terhadap teknologi berjalan bertahap. Pengelola bank sampah juga memiliki waktu untuk meningkatkan kemampuan dalam menggunakan platform digital Genhi.

Pakualaman Punya 19 Bank Sampah

Ketua Forum Bank Sampah Kemantren Pakualaman Eni Sulistyowati menyambut positif hadirnya platform digital tersebut. Menurutnya, dukungan teknologi dari kalangan akademisi dibutuhkan karena kemampuan teknologi informasi (IT) pengelola bank sampah di tingkat masyarakat belum merata.

"Sangat berguna sekali, karena tidak setiap bank sampah kami itu bisa IT-nya. Jadi dengan bekerja sama dengan akademisi, saya berterima kasih sekali untuk kemajuan Purwokinanti, terutama dalam Forum Bank Sampah," ujar Eni.

Menurut Eni, digitalisasi pengelolaan bank sampah juga sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Jogja membangun sistem pengelolaan sampah yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan.

Program seperti Gerakan Nol Sampah Anorganik (GZSA), Organikkan Jogja, hingga gerakan Mas Joss menempatkan bank sampah sebagai salah satu ujung tombak dalam mendorong perubahan pola pikir atau mindset masyarakat terhadap pengelolaan sampah.

Di Kemantren Pakualaman terdapat dua kelurahan dengan total 19 bank sampah. Rinciannya terdiri dari 9 bank sampah di Gunungketur dan 10 bank sampah di Purwokinanti.

"Di Kemantren Pakualaman terdiri dari dua kelurahan dengan total 19 bank sampah, yakni Gunungketur 9 dan Purwokinanti 10 bank sampah. Kami berharap 10 bank sampah di Purwokinanti ini dapat maju bersama dan menjadi motivasi bagi wilayah lainnya," ungkapnya.

Tantangan Literasi Digital Pengelola

Digitalisasi pengelolaan bank sampah juga memiliki tantangan. Ketua Forum Bank Sampah Kelurahan Purwokinanti Wiwik Nuryuni mengatakan sebagian besar pengelola merupakan kelompok ibu-ibu yang belum terbiasa menggunakan teknologi informasi.

"Kebanyakan pengelola adalah ibu-ibu yang kurang melek IT. Tapi semoga dengan adanya dukungan dari UIN ini, kita semua bisa belajar dari sini untuk menaikkan potensi bank sampah masing-masing supaya lebih dikenal," tutur Wiwik.

Karena itu, kehadiran Genhi tidak hanya diharapkan menjadi alat administrasi digital. Platform tersebut juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi pengelola untuk memperkenalkan aktivitas dan potensi masing-masing bank sampah.

Wiwik menjelaskan kegiatan penimbangan sampah di Purwokinanti umumnya dilakukan rutin satu kali dalam sebulan. Jadwal penimbangan disesuaikan dengan masing-masing RW bersama pihak pelapak penampung.

Ia optimistis keberadaan Genhi dapat membuat komunikasi antarbank sampah menjadi lebih mudah. Platform tersebut juga diharapkan membantu memperluas jangkauan nasabah sekaligus meningkatkan potensi masing-masing bank sampah di Purwokinanti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|