
Seorang warga mengambil air dari sumber Duren di Padukuhan Duwet, Purwodadi, Tepus untuk memenuhi kebutuhan harian, Kamis (23/7/2026)./Harian Jogja-David Kurniawan\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan di Kabupaten Gunungkidul telah disalurkan ke delapan kapanewon hingga akhir Juli 2026. Penyaluran dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul dan sejumlah kapanewon yang memiliki anggaran droping air secara mandiri.
Jumlah wilayah penerima bantuan terus bertambah seiring meningkatnya dampak musim kemarau di Bumi Handayani. BPBD Gunungkidul mencatat bantuan air bersih telah disalurkan ke sejumlah lokasi berdasarkan permohonan resmi dari masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan tahun ini BPBD mengalokasikan anggaran untuk penyaluran sebanyak 1.150 tangki air bersih.
Hingga saat ini, bantuan yang telah disalurkan mencapai 128 tangki dengan kapasitas 5.000 liter per tangki.
Rinciannya, sebanyak 56 tangki disalurkan ke warga di Kapanewon Rongkop, 40 tangki ke Kapanewon Tepus, serta masing-masing 16 tangki ke warga di Kapanewon Wonosari dan Kapanewon Panggang.
“Bantuan terus disalurkan dengan catatan ada permintaan secara resmi,” kata Purwono, Senin (27/7/2026).
Menurut Purwono, penyaluran bantuan air bersih tidak hanya dilakukan oleh BPBD karena terdapat 12 kapanewon yang memiliki anggaran droping air sendiri.
Kapanewon tersebut meliputi Kapanewon Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Gedangsari, Nglipar, Semanu, dan Ponjong.
Sementara itu, kapanewon yang tidak memiliki anggaran droping air adalah Kapanewon Wonosari, Saptosari, Karangmojo, Playen, Semin, dan Ngawen.
Hingga akhir Juli 2026, bantuan air bersih secara mandiri telah disalurkan oleh Kapanewon Rongkop, Girisubo, Tepus, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, dan Semanu.
“Berdasarkan monitoring yang dilakukan, bantuan air sudah disalurkan ke delapan kapanewon,” katanya.
Kepala Bidang Pencegahan Kesiapsiagaan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Gunungkidul, Nanang Irawanto, mengatakan krisis air bersih menjadi ancaman bagi masyarakat selama musim kemarau.
BPBD Gunungkidul mencatat terdapat 114.528 warga yang tersebar di 54 kalurahan pada 15 kapanewon di Bumi Handayani yang berpotensi terdampak kekeringan.
“Sudah kami petakan mengenai rencana pelaksanaan droping di 15 kapanewon di tahun ini. Untuk yang tidak masuk rencana mendapatkan bantuan adalah Kapanewon Wonosari, Ngawen dan Playen,” kata Nanang, Ahad (19/7/2026).
Menurut Nanang, potensi warga terdampak kekeringan paling banyak berada di zona selatan Kabupaten Gunungkidul. Di Kapanewon Tepus terdapat sekitar 29.003 jiwa yang berpotensi terdampak, di Kapanewon Girisubo mencapai 19.699 jiwa, Kapanewon Tanjungsari sebanyak 19.750 jiwa, Kapanewon Panggang sebanyak 16.702 jiwa, dan Kapanewon Paliyan mencapai 10.522 jiwa.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, BPBD Gunungkidul telah menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi kekeringan yang berlaku mulai Juni hingga Agustus 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































