Banyak Kapal 'Zombie' yang Bermunculan di Selat Hormuz, Ada Apa?

5 hours ago 14

Jakarta, CNBC Indonesia - Selat Hormuz hingga saat ini masih ditutup oleh Iran. Imbas dari penutupan Selat Hormuz telah membuat distribusi minyak dunia terancam. Hanya beberapa negara yang kapal minyaknya diperbolehkan melewati Selat Hormuz. Adapun negara-negara tersebut, yakni China, India, dan Jepang.

Iran dilaporkan memperbolehkan kapal minyak mentah dalam jumlah besar ke China melalui Selat Hormuz. Langkah berisiko tinggi itu tetap dilakukan di tengah berkecamuknya perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran yang telah melumpuhkan pasokan energi di jalur peluncuran global tersebut.

Berdasarkan data dari TankerTrackers, Iran tercatat telah mengirimkan sedikitnya 11,7 juta barel minyak mentah melalui Selat Hormuz sejak perang pecah pada 28 Februari 2026. Seluruh muatan emas hitam tersebut diketahui memiliki satu tujuan utama, yakni China.

Co-founder TankerTrackers Samir Madani mengungkapkan TankerTrackers terus memantau pergerakan kapal menggunakan citra satelit. Teknologi tersebut memungkinkan deteksi terhadap kapal-kapal yang mencoba "menghilang" dengan mematikan sistem pelacakan mereka setelah adanya ancaman dari Teheran.

"Banyak kapal telah 'menjadi gelap' setelah Teheran mengancam akan menyerang kapal mana pun yang mencoba melewati jalur air tersebut," ujar Madani kepada CNBC International seperti dikutip, Selasa (24/3/2026).

Senada dengan temuan tersebut, penyedia data intelijen pelayaran Kpler memperkirakan sekitar 12 juta barel minyak mentah telah melewati selat itu sejak perang dimulai. Meskipun identifikasi tujuan akhir semakin sulit, China tetap menjadi tersangka utama penerima pasokan tersebut.

"Mengingat China telah menjadi pembeli utama minyak mentah Iran dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar dari barel-barel ini pada akhirnya kemungkinan besar akan menuju ke sana," kata analis minyak mentah Kpler, Nhway Khin Soe.

Selain China, India juga disebut sebagai negara yang kini bebas melewati Selat Hormuz. Duta Besar Iran untuk India Mohammad Fathali telah mengindikasikan kapal-kapal India dapat mengharapkan jalur aman melalui Selat Hormuz di tengah konflik Timur Tengah yang sedang berlangsung.

Mengutip laman Rusia RT, Fathali menyebut Teheran memandang New Delhi sebagai teman dan mitra penting. Ditegaskannya, ada kepentingan yang saling berkaitan antara kedua negara.

"Ya, karena India adalah teman kami. Anda akan melihatnya dalam dua atau tiga jam," katanya.

Pernyataan duta besar Iran tersebut juga disampaikan beberapa jam setelah para pejabat tinggi kedua negara mengadakan pembicaraan telepon. Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi berbicara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Kamis pekan lalu dan menyatakan keprihatinan atas "peningkatan ketegangan, hilangnya nyawa warga sipil, dan kerusakan infrastruktur sipil".

Dalam percakapan terpisah, Menteri Luar Negeri India S. Jaishankar berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Selama percakapan tersebut, Teheran menguraikan posisinya setelah serangan AS-Israel dan meminta dukungan dari negara-negara BRICS, sementara India menekankan kerja sama dan stabilitas regional.

Selain China dan India, Iran juga siap mengizinkan kapal-kapal yang terkait dengan Jepang melintasi Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengungkapkan bahwa pembahasan terkait kebijakan ini telah dimulai antara kedua negara.

Hal itu disampaikan dalam transkrip wawancara Araghchi dengan Kyodo News yang diunggah melalui akun Telegramnya pada Sabtu lalu. Ia mengatakan, isu ini juga telah dibahas dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi pada Selasa lalu.

Berbicara dalam sebuah program televisi pada Minggu, Motegi enggan merinci isi pembicaraan tersebut. Namun, ia menyatakan diskusi yang dilakukan berfokus pada pentingnya menjaga kelancaran perdagangan.

"Saya menekankan bahwa keselamatan kapal-kapal ini sangat penting dari perspektif Jepang, karena begitu banyak kapal yang terlibat, kami percaya sangat penting untuk menciptakan situasi di mana semua kapal tersebut dapat melewatinya," kata Motegi dikutip dari Japan Times, Senin (23/3/2026).

Ada kemunculan kapal 'zombie'
Di tengah terbatasnya kapal yang melewati Selat Hormuz, ada beberapa kapal 'zombie' yang meresahkan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Sebuah kapal yang diduga menggunakan identitas palsu 'Nabiin' terdeteksi melintas di Teluk Persia dan Teluk Oman pada Minggu (22/3/2026) dan Senin (23/3/2026).

Bloomberg melaporkan kapal asli Nabiin telah dibongkar di Bangladesh lima tahun lalu, menyiratkan kapal yang muncul saat ini adalah entitas ilegal yang beroperasi dengan identitas kapal sah yang telah dinonaktifkan. Kejadian ini mencerminkan upaya sistematis untuk menghindari pengawasan dan sanksi di tengah ketegangan geopolitik.

Kemunculan kapal 'zombie' ini bukan yang pertama, setelah sebelumnya kapal Jamal juga terpantau beroperasi dengan modus serupa setelah didokumentasikan di tempat pembongkaran di India tahun lalu.

Modus operandi ini, yang seringkali melibatkan pemalsuan identitas dan pemadaman sinyal geolokasi, menunjukkan tantangan besar bagi otoritas maritim dalam menegakkan regulasi dan keamanan di perairan internasional.

Gangguan elektronik yang parah pada sinyal transmisi kapal menambah kompleksitas dalam pelacakan, memungkinkan kapal-kapal ini mengangkut kargo. kemungkinan minyak mentah, tanpa tujuan yang jelas atau pengawasan yang memadai.

Aktivitas kapal-kapal 'zombie' ini sangat terkait dengan upaya para pemilik kapal untuk mengirim kargo melewati Selat Hormuz yang secara efektif tertutup pascaserangan AS-Israel terhadap Iran.

(miq/miq)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|