Harianjogja.com, JOGJA—Inovasi literasi digital dihadirkan sebagai upaya memperluas akses pengetahuan bagi aparatur sipil negara (ASN), peserta pelatihan, mahasiswa, hingga masyarakat umum di tengah perubahan pola baca masyarakat yang semakin mengarah ke platform digital. BBPKA-PDN III Yogyakarta resmi meluncurkan BBPK Jogja Digilib, sebuah perpustakaan digital terintegrasi yang dapat diakses selama 24 jam penuh.
Platform BBPK Jogja Digilib bisa diunduh melalui playstore. Peluncuran BBPK Jogja Digilib dilakukan dalam agenda Bincang Literasi dan menjadi bagian dari transformasi layanan perpustakaan yang tidak lagi bergantung pada kunjungan fisik. Kehadiran platform ini sekaligus menjadi langkah strategis untuk memperkuat budaya literasi serta menghadirkan layanan pengetahuan yang lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Kepala BBPKA-PDN III Yogyakarta, M. Weli Septiya Putra, mengatakan perpustakaan memiliki peran penting sebagai pusat pembelajaran di setiap lembaga pendidikan dan pelatihan. Namun, perubahan zaman menuntut adanya inovasi agar perpustakaan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
"Kita harus berinovasi supaya perpustakaan ini dikemas menjadi sumber yang memang menjadi kebutuhan. Kami beralih dari e-library konvensional menuju digital library yang komprehensif," ujar Weli, Rabu (18/6/2026).
Menurut Weli, transformasi menuju perpustakaan digital dilakukan sebagai respons atas menurunnya kunjungan ke perpustakaan konvensional. Melalui BBPK Jogja Digilib, akses terhadap berbagai sumber pengetahuan diharapkan menjadi lebih cepat, fleksibel, dan menjangkau lebih banyak kalangan.
Inovasi tersebut juga mendapat apresiasi dari Menteri Dalam Negeri. BBPK Jogja Digilib bahkan disebut berpotensi menjadi model atau flagship baru di lingkungan Kementerian Dalam Negeri yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Menariknya, pengembangan platform ini tidak sepenuhnya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). BBPKA-PDN III Yogyakarta menerapkan skema pembiayaan kreatif melalui kemitraan Public-Private Partnership (PPP) bersama program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) Bank BPD DIY.
Mengusung slogan "Satu Klik Sejuta Pengetahuan", BBPK Jogja Digilib dikembangkan melalui kolaborasi dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas), akademisi, serta sejumlah perguruan tinggi. Platform ini dapat diakses kapan saja sepanjang tahun oleh ASN, peserta pendidikan dan pelatihan, mahasiswa, media massa, maupun masyarakat umum.
Selain mengembangkan layanan digital, BBPKA-PDN III Yogyakarta juga menyiapkan peningkatan aksesibilitas fasilitas publik di kawasan lembaganya. Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah membuka akses gerbang timur untuk masyarakat secara lebih luas.
"Kami berencana memaksimalkan gerbang timur untuk diakses publik secara utuh dari jam 07.00 sampai 23.00 WIB. Di sana nanti akan ada fasilitas umum seperti coffee shop, gedung Digilib, masjid, hingga klinik agar masyarakat bisa merasakan langsung kehadiran lembaga diklat ini. Kalau fisiknya seperti itu, tapi jangkauan coveragenya itu 24 jam bisa diakses dimanapun, 24 jam selama seminggu dan 365 hari, tanpa batas, tanpa stop," tambah Weli.
Pengetahuan Jadi Penggerak Kemajuan
Transformasi literasi digital yang dilakukan BBPKA-PDN III Yogyakarta mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai pengetahuan harus hadir lebih dekat dengan masyarakat dan tidak hanya tersimpan di ruang-ruang akademik.
Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Mardani Ria Setiawan, menjelaskan bahwa perguruan tinggi saat ini menjadikan data, hasil penelitian, dan pengetahuan sebagai modal utama untuk menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Menurutnya, pengetahuan harus menjadi penggerak kemajuan, bukan sekadar arsip yang tersimpan di perpustakaan. Karena itu, UGM terus mendorong distribusi hasil riset agar dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
"Kami sekarang berpikir universitas itu tidak lagi sekadar jualan kuliah, tetapi bagaimana kita bisa mendistribusikan knowledge hingga memberikan dampak nyata [impact]. Pengetahuan tidak boleh hanya mandek di dalam gedung perpustakaan," kata Mardani dalam diskusi tersebut.
Minat Baca Menjadi Tantangan Literasi Digital
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Sjam Aryanti, mengungkapkan tingkat literasi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta masih tergolong tinggi berdasarkan sejumlah indikator nasional. Namun, tantangan baru muncul seiring perubahan perilaku generasi muda yang semakin akrab dengan gawai dan media digital.
"Tingkat literasi tinggi, namun minat baca secara nasional maupun daerah cenderung mengalami penurunan karena perubahan perilaku generasi muda. Ini tantangan kita bersama," tutur Sjam.
Untuk menjawab tantangan tersebut, DPAD DIY menghadirkan berbagai inovasi layanan publik, salah satunya melalui penyediaan coworking space gratis yang dilengkapi pendingin ruangan dan akses internet cepat. Fasilitas tersebut dirancang untuk menarik masyarakat datang ke lingkungan perpustakaan sekaligus mengenalkan berbagai layanan literasi digital yang tersedia.
"Awalnya sepi, tapi sekarang masyarakat bahkan sudah antre sebelum kantor dibuka. Di dalam ruangan tersebut, kami pancing rasa penasaran mereka dengan menyediakan akses barcode e-book koleksi DPAD DIY," ungkap Sjam.
Melalui pengembangan BBPK Jogja Digilib, perluasan ruang literasi publik oleh DPAD DIY, serta distribusi pengetahuan yang lebih inklusif dari UGM, Yogyakarta terus memperkuat posisinya sebagai salah satu daerah yang aktif mendorong transformasi literasi digital.
Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas akses pengetahuan masyarakat sekaligus meningkatkan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pendidikan, riset, dan pembangunan sumber daya manusia di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































