Bicara Damai dengan Iran tapi Bakal Tambah Pasukan, Trump Maunya Apa?

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) diperkirakan akan mengirim ribuan tentara tambahan ke Timur Tengah. Situasi ini menambah eskalasi militer di kawasan tersebut di tengah konflik yang terus memanas dengan Iran.

Mengutip Reuters, dua sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut Pentagon tengah menyiapkan pengerahan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82, unit elit Angkatan Darat AS. Langkah ini muncul meski Presiden Donald Trump sebelumnya membuka peluang tercapainya kesepakatan dengan Teheran untuk mengakhiri perang.

Salah satu sumber menyebut jumlah pasukan yang akan dikirim berkisar antara 3.000 hingga 4.000 personel. Namun, belum ada kepastian terkait lokasi penempatan maupun waktu kedatangan pasukan di kawasan Timur Tengah.

"Seperti yang telah kami katakan, Presiden Trump selalu memiliki semua opsi militer yang dapat digunakannya," ujar juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, dikutip Rabu (25/3/2026).

Meski demikian, sumber tersebut menegaskan belum ada keputusan untuk mengerahkan pasukan langsung ke wilayah Iran. Pengerahan ini disebut lebih ditujukan untuk memperkuat kapasitas operasi militer AS di kawasan jika diperlukan di masa depan.

Sebelumnya, Reuters juga melaporkan AS telah mengirim ribuan Marinir dan pelaut melalui kapal serbu amfibi USS Boxer beserta unit ekspedisi Marinir ke Timur Tengah. Sebelum tambahan pasukan ini, sekitar 50.000 personel militer AS telah berada di kawasan tersebut.

Sejak operasi militer AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari, tercatat sekitar 9.000 target telah diserang di wilayah Iran. Seorang pejabat AS menyebut 13 tentara AS tewas dan 290 lainnya mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 255 personel telah kembali bertugas, sementara 10 lainnya masih dalam kondisi serius.

Di sisi lain, pemerintah AS juga tengah mempertimbangkan sejumlah opsi lanjutan, termasuk pengamanan Selat Hormuz hingga kemungkinan pengerahan pasukan ke Pulau Kharg, yang menjadi pusat sekitar 90% ekspor minyak Iran.

Namun, potensi penggunaan pasukan darat AS dinilai berisiko secara politik bagi Trump. Hal ini seiring rendahnya dukungan publik terhadap konflik tersebut. Jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru menunjukkan hanya 35% warga AS yang mendukung serangan ke Iran, turun dari 37% pada pekan sebelumnya. Sementara itu, 61% responden menyatakan tidak setuju dengan langkah militer tersebut.

Adapun sikap terbaru AS diambil di tengah konflik yang telah berlangsung selama hampir empat minggu dan turut mengguncang pasar global. Meski Trump sempat menyebut adanya pembicaraan "produktif" dengan Iran dan menunda ancaman serangan terhadap fasilitas listrik negara tersebut, Teheran membantah adanya dialog itu.

Berbicara di Oval Office pada Selasa (24/3/2026), Trump menyatakan bahwa ia memutuskan mundur dari ancaman sebelumnya untuk memerintahkan serangan terhadap infrastruktur energi Iran karena adanya proses diplomatik yang sedang berlangsung. Ia menyebut langkah tersebut diambil "berdasarkan fakta bahwa kami sedang bernegosiasi".

"Mereka berbicara dengan kami, dan pembicaraan mereka masuk akal," kata Trump ketika diminta menjelaskan perubahan sikapnya.

(tfa/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|