Ilustrasi perlintasan Rafah yang menghubungkan Mesir dan Jalur Gaza. /ANTARA - Anadolu
Harianjogja.com, GAZA—Blokade Gaza kembali menjadi sorotan setelah Israel memperketat pembatasan masuknya pasokan makanan dan bahan bakar ke wilayah tersebut di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang berkaitan dengan Iran. Kebijakan ini memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan kebutuhan dasar bagi lebih dari dua juta warga Palestina yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah kantong itu.
Langkah pengetatan blokade tersebut disebut dilakukan dengan menambah pembatasan terhadap impor bahan pangan dan bahan bakar yang masuk ke Jalur Gaza. Kondisi ini dinilai memperparah situasi kemanusiaan yang sudah lama memburuk di wilayah padat penduduk tersebut.
"Otoritas Israel telah memanfaatkan perkembangan situasi di kawasan untuk memperkuat langkah-langkah pembatasan dan menerapkan batasan tambahan terhadap impor makanan dan bahan bakar ke Jalur Gaza, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan," kata Juru Bicara Otoritas Gaza Ismail al-Thawabta kepada RIA Novosti, Selasa.
Ismail menjelaskan bahwa ketegangan regional berdampak langsung terhadap distribusi logistik penting yang selama ini menjadi penopang kehidupan warga di Jalur Gaza. Menurutnya, lebih dari 2,4 juta orang di wilayah tersebut sangat bergantung pada arus pasokan dari luar.
Dari total sekitar 7.400 truk bahan bakar yang diperkirakan dibutuhkan untuk menjaga pasokan energi di wilayah itu, hanya 1.081 truk yang berhasil masuk. Jumlah tersebut jauh dari kebutuhan minimum untuk menopang aktivitas masyarakat dan layanan publik.
Pembatasan juga mencakup penghentian total impor gas alam yang selama ini digunakan masyarakat untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Kondisi kekurangan bahan bakar tersebut berdampak luas, mulai dari terhentinya operasi stasiun pompa air hingga terganggunya layanan rumah sakit serta pelayanan kota lainnya.
"Jalur Gaza mengalami kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk barang-barang kebutuhan pokok serta penurunan daya beli keluarga di tengah kemiskinan dan pengangguran," ujar Ismail.
Selain krisis pasokan kebutuhan pokok, akses layanan kesehatan juga ikut terdampak. Ismail menyebut perlintasan Rafah yang berada di perbatasan Gaza dengan Mesir masih ditutup untuk proses evakuasi pasien sakit maupun korban luka. Situasi tersebut membuat ribuan warga kehilangan peluang untuk memperoleh perawatan medis di luar wilayah Gaza, sementara fasilitas kesehatan lokal juga menghadapi tekanan akibat keterbatasan energi dan logistik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara


















































