BMKG Prediksi Kemarau 2026 di DIY Lebih Kering, Waspada El Nino

3 hours ago 1

BMKG Prediksi Kemarau 2026 di DIY Lebih Kering, Waspada El Nino Ilustrasi. - Ist/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Kondisi ini dipengaruhi dinamika atmosfer dan laut, termasuk potensi kemunculan fenomena El Nino pada paruh kedua tahun.

Kepala Stasiun Klimatologi DIY, Reni Kraningtyas, menjelaskan sejumlah indikator menunjukkan Monsun Australia mulai aktif, ditandai dengan pola angin dari timur di wilayah selatan ekuator Indonesia.

Selain itu, beberapa parameter iklim global seperti Dipole Mode Indeks (DMI), Madden Julian Oscillation (MJO), hingga El Nino Southern Oscillation (ENSO) masih berada dalam kondisi netral hingga pertengahan 2026.

Namun, memasuki Juli hingga akhir tahun, peluang munculnya El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat diperkirakan mencapai 50–60%.

Di sisi lain, suhu muka laut di perairan selatan DIY tercatat berada pada kisaran 28–29 derajat Celsius dengan anomali antara minus 2,0 hingga 0,5 derajat Celsius, yang masuk kategori dingin hingga netral.

Awal Kemarau hingga Puncaknya

BMKG memperkirakan awal musim kemarau di DIY mulai terjadi pada dasarian ketiga April 2026 di sebagian besar wilayah, dan berlanjut pada awal Mei untuk wilayah lainnya.

Sifat hujan selama musim kemarau diprediksi didominasi kategori bawah normal, yang berarti curah hujan lebih rendah dari rata-rata klimatologis.

Puncak musim kemarau diprakirakan berlangsung pada Agustus 2026 di seluruh wilayah DIY. Sementara itu, akhir musim kemarau diperkirakan terjadi pada dasarian kedua Oktober hingga awal November 2026.

Total curah hujan selama musim kemarau diprediksi berada di kisaran 250–400 mm.

Potensi Kekeringan dan Dampak

BMKG mengingatkan potensi kekeringan ekstrem perlu diwaspadai terutama menjelang hingga setelah puncak kemarau, yakni pada periode Juli hingga September 2026.

Selain itu, kondisi kemarau yang lebih kering berpotensi memengaruhi sektor pertanian. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menyesuaikan pola tanam guna menghindari risiko gagal panen.

Pengelolaan sumber daya air juga menjadi kunci dalam menghadapi musim kemarau tahun ini, terutama di wilayah yang rawan kekeringan meteorologis.

Imbauan Kewaspadaan

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada pada masa peralihan musim (pancaroba), yang ditandai dengan perubahan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan petir.

Langkah mitigasi seperti membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang rawan tumbang, serta memastikan kekuatan bangunan dan baliho perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak cuaca ekstrem.

Dengan prediksi tersebut, masyarakat dan pemerintah daerah diharapkan lebih siap dan antisipatif menghadapi musim kemarau 2026 yang berpotensi lebih kering dari biasanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|