Bos BI Blak-blakan Penyebab Dolar Tembus Rp 17.300

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan penyebab kurs rupiah hari ini mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga melemah di level atas Rp 17.300/US$.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan data Refinitiv, per pukul 09.32 WIB, mata uang Garuda melemah 0,79% ke level Rp17.305/US$. Level ini sekaligus menjadi posisi terlemah rupiah sepanjang masa yang baru secara intraday.

Menurut Destry, tekanan yang terjadi terhadap kurs rupiah hari ini tidak terlepas dari tingginya ketidakpastian global. Makanya, ia menekankan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebetulnya tidak melemah sendiri.

"Tekanan pada Rupiah yang terjadi sejak pagi tadi lebih banyak karena meningkatnya ketidakpastian global, sehingga mata uang regional mengalami tekanan yang sama," kata Destry kepada CNBC Indonesia.

Oleh sebab itu, ia pun memastikan, Bank Indonesia akan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat struktur suku bunga instrumen pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik, di tengah berlanjutnya dampak perang Timur Tengah.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus kami lakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder," kata Destry.

Ia menekankan, pelemahan rupiah masih sejalan dengan regional. Secara tahun berjalan atau year to date, kurs rupiah ia anggap telah melemah dengan minus 3,54% dan cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.

Berdasarkan catatan tim riset CNBC Indonesia, mata uang negara-negara Asia bergerak di zona pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Kamis (23/4/2026).

Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.40 WIB, dari sepuluh mata uang Asia yang dipantau, hanya dua mata uang yang menguat dan tujuh lainnya melemah terhadap greenback. Pelemahan terdalam terjadi pada rupiah yang terkoreksi tajam hingga 0,82% ke level Rp17.310/US$.

Sementara itu, tekanan besar juga dialami peso Filipina yang melemah 0,62% ke PHP 60,46/US$, disusul baht Thailand yang turun 0,43% ke THB 32,36/US$.

Won Korea Selatan melemah 0,21% ke KRW1.481,5/US$, sementara ringgit Malaysia turun 0,25% ke MYR 3,96/US$. Adapun dolar Taiwan melemah 0,15% ke TWD 31,51/US$, sedangkan dolar Singapura turun 0,07% ke SGD 1,276/US$. Yuan China juga melemah tipis 0,02% ke CNY 6,828/US$.

Dua mata uang yang masih mampu menguat adalah dong Vietnam yang naik 0,08% ke VND 26.300/US$ dan yen Jepang yang menguat tipis 0,01% ke JPY 159,46/US$.

(arj/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|