Harianjogja.com, JOGJA—Bos Instagram Adam Mosseri mengakui fitur keselamatan “Take a Break” yang dirancang untuk membantu remaja membatasi waktu menggunakan aplikasi ternyata hanya diminati sebagian kecil pengguna sebelum akhirnya diaktifkan secara otomatis. Pengakuan itu disampaikan Mosseri dalam persidangan kasus kecanduan media sosial anak di Pengadilan Federal Oakland, California, Selasa (25/8/2026).
Di hadapan pengadilan, Mosseri mengungkap tingkat penggunaan fitur tersebut oleh remaja sebelumnya hanya berada pada angka satu digit. Dokumen internal Meta yang dipresentasikan dalam persidangan bahkan menunjukkan tingkat adopsi “Take a Break” hanya 1,8 persen, sedangkan fitur “Quiet Mode” berada di angka 8,7 persen.
Kesaksian Mosseri menjadi bagian penting dalam hari keempat persidangan yang melibatkan gugatan dari 29 negara bagian Amerika Serikat terhadap Meta Platforms, induk usaha Instagram dan Facebook. Negara-negara bagian itu menuduh Meta sengaja merancang platformnya agar membuat anak-anak dan remaja terus menggunakan layanan tersebut.
Fitur Keselamatan Instagram Tak Banyak Dipakai Remaja
Dalam pemeriksaan yang dilakukan Jason Slothouber, pengacara yang mewakili Negara Bagian Colorado, Mosseri mengakui bahwa penggunaan “Take a Break” di kalangan remaja sebelum menjadi pengaturan otomatis berada pada tingkat yang sangat rendah. Fitur tersebut pertama kali diluncurkan pada 2021 untuk mendorong pengguna berhenti menggunakan Instagram setelah melewati durasi tertentu.
Kondisi itu berbeda dengan gambaran yang pernah disampaikan Mosseri ketika fitur tersebut diluncurkan pada Desember 2021. Saat itu, dalam blog resmi perusahaan, ia menyebut lebih dari 90 persen remaja yang memilih mengaktifkan fitur tersebut tetap mempertahankannya.
Dalam persidangan, Mosseri mengakui bahwa sebagian besar remaja memang tidak menginginkan fitur tersebut. Meski demikian, ia mengatakan Instagram tetap memutuskan untuk melanjutkannya.
Dokumen internal yang dibahas di pengadilan menunjukkan rendahnya tingkat penggunaan itu bukan sekadar persoalan persepsi. Data tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan terhadap bagaimana Meta mengevaluasi dan menerapkan fitur keselamatan bagi pengguna muda.
Mantan ilmuwan data Meta, George Volichenko, yang bekerja di tim kesejahteraan mental Instagram pada April 2022 hingga Februari 2023, juga memberikan kesaksian mengenai fitur tersebut. Menurut kesaksiannya, kurang dari 0,165 persen pengguna remaja mengaktifkan “Take a Break” sekaligus benar-benar mengambil jeda 10 menit yang disarankan.
Volichenko menggambarkan jumlah tersebut sebagai “setetes air di lautan”. Ia juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap terbatasnya kebebasan tim untuk menguji dan meluncurkan fitur yang dinilai dapat membantu remaja.
Gugatan 29 Negara Bagian Mengincar Denda Fantastis
Kesaksian Mosseri berlangsung dalam persidangan besar yang melibatkan 29 negara bagian Amerika Serikat. California, Colorado, Kentucky, dan New Jersey memimpin gugatan yang menuduh Meta merancang Instagram dan Facebook untuk membuat pengguna muda terus terikat pada platform.
Para penggugat menilai desain platform dapat berkontribusi terhadap berbagai persoalan pada pengguna muda, termasuk kecemasan, depresi, hingga perilaku bunuh diri. Selain itu, negara-negara bagian tersebut menuduh Meta melanggar Children's Online Privacy Protection Act (COPPA) dengan mengumpulkan dan menggunakan data pribadi anak berusia di bawah 13 tahun secara tidak semestinya.
Nilai sanksi perdata yang dipersoalkan dalam perkara ini dapat mencapai hampir US$200 miliar atau sekitar Rp3.543 triliun. Gugatan itu juga tidak hanya berorientasi pada hukuman finansial, tetapi dapat mendorong perubahan terhadap cara Instagram dan Facebook menjalankan sistemnya untuk meningkatkan perlindungan anak.
Mosseri Bantah Meta Menyembunyikan Data
Dalam persidangan, Mosseri juga membantah tuduhan bahwa dirinya mendorong tim untuk menyembunyikan atau menyaring data internal yang berkaitan dengan keselamatan anak. Ia mengatakan tidak pernah mendorong timnya untuk menyembunyikan informasi.
"Saya tidak pernah mendorong tim saya untuk menyembunyikan apa pun," tegas Mosseri.
Mosseri menjelaskan Instagram memang memusatkan riset sensitif mengenai remaja ke satu tim khusus setelah kebocoran dokumen internal yang dikenal sebagai “Facebook Files” pada 2021. Kebocoran itu dilakukan oleh whistleblower Frances Haugen, mantan manajer produk Facebook.
Menurut Mosseri, pemusatan tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas riset dan mencegah informasi digunakan di luar konteks. Reuters juga melaporkan Mosseri menolak anggapan bahwa ia mengetahui adanya kebijakan yang memungkinkan tim hukum menghapus informasi dari presentasi internal untuk melindungi dirinya atau perusahaan.
Kesaksian Direktur Desain Instagram Soroti Data Remaja
Sebelum Mosseri memberikan kesaksian, Direktur Desain Produk Instagram Francesco Fogu juga diperiksa dalam persidangan. Fogu mengakui adanya penghapusan data dari sebuah slide presentasi yang disiapkan timnya pada 2023 untuk jajaran pimpinan Instagram.
Data yang dihapus dari slide itu menunjukkan pengguna remaja Instagram terpapar konten perundungan, bunuh diri, kebencian, ketelanjangan, dan kekerasan 1,5 kali lebih banyak dibandingkan pengguna dewasa. Ketika diperiksa oleh pengacara Meta, Fogu kemudian mengatakan angka tersebut muncul pada slide yang berbeda.
Fogu juga mengakui Instagram mengetahui bahwa lebih sedikit pengguna akan memakai “Take a Break” apabila fitur tersebut tidak dijadikan pengaturan default. Kesaksian itu membuat persoalan mengenai rendahnya penggunaan fitur keselamatan kembali menjadi bagian penting dalam pemeriksaan perkara.
Persidangan Diperkirakan Berlangsung Enam Pekan
Persidangan di Oakland dipimpin Hakim Distrik AS Yvonne Gonzalez Rogers dan diperkirakan berlangsung selama enam pekan. Pengadilan akan menentukan apakah Meta bertanggung jawab atas tuduhan yang diajukan serta menetapkan sanksi perdata dan kemungkinan perubahan terhadap sistem Facebook dan Instagram.
Perkara tersebut menjadi salah satu rangkaian persoalan hukum yang dihadapi Meta terkait dampak platform media sosial terhadap anak dan remaja. Dalam perkara di Los Angeles, juri sebelumnya menyatakan Meta dan Alphabet, perusahaan induk Google, lalai dalam desain produknya dan memerintahkan pembayaran US$6 juta kepada seorang perempuan berusia 20 tahun yang mengatakan dirinya mengalami kecanduan sejak masih kecil.
Di New Mexico, hakim juga memerintahkan Meta membayar US$567 juta untuk penanganan kesehatan mental remaja setelah platform perusahaan dinyatakan sebagai gangguan publik.
Dengan persidangan federal di Oakland yang masih berlangsung, kesaksian mengenai fitur “Take a Break” dan pengelolaan data keselamatan remaja menjadi bagian dari pemeriksaan terhadap cara Meta merancang serta mengoperasikan Instagram bagi pengguna muda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

















































