Breaking News! Harga Minyak Melonjak Lagi, Tembus US$107 per Barel

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menanjak pada perdagangan Senin pagi (27/4/2026), saat pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jalur energi paling vital dunia, Selat Hormuz, masih bergerak terbatas. Investor pun kembali memasang premi risiko pada harga energi.

Menurut data Refinitiv pada pukul 09.20 WIB, kontrak Brent berada di US$107,09 per barel, naik dari penutupan sebelumnya US$105,33 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$95,8 per barel, menguat dari US$94,4 per barel pada perdagangan terakhir.

Kenaikan ini memperpanjang reli tajam pekan lalu. Dalam sepekan, Brent melonjak dari US$90,38 pada 17 April menjadi US$105,33 pada 24 April, atau naik lebih dari 16%. WTI juga melesat dari US$83,85 menjadi US$94,4, setara penguatan sekitar 12,6%. Lompatan secepat ini jarang terjadi kecuali pasar menghadapi gangguan pasokan besar.

Sentimen utama datang dari mandeknya upaya diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Reuters melaporkan harapan perundingan mereda setelah Presiden Donald Trump membatalkan rencana kunjungan utusan AS ke Islamabad. Di saat bersamaan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi justru tiba di Pakistan. Situasi itu membuat pasar menilai ruang negosiasi semakin sempit.

Pasar juga fokus pada arus kapal di Selat Hormuz. Data Kpler yang dikutip Reuters menyebut hanya satu kapal tanker produk minyak yang masuk ke Teluk pada Minggu. Untuk ukuran jalur yang biasanya menjadi nadi perdagangan energi dunia, angka itu sangat minim. Artinya, pasokan fisik masih tertahan dan rantai distribusi belum pulih normal.

Analis IG Market Tony Sycamore mengatakan tekanan kini berada di pihak Teheran. Jika ekspor tersendat dan kapasitas penyimpanan penuh, Iran berisiko memangkas produksi di ladang-ladang tua mereka. Risiko seperti ini membuat trader memilih membeli kontrak minyak lebih awal sebagai lindung nilai.

Di tengah situasi tersebut, Goldman Sachs ikut merevisi proyeksi harga minyak kuartal IV-2026. Bank investasi itu kini memperkirakan Brent di US$90 per barel dan WTI US$83 per barel, dengan alasan produksi Timur Tengah berpotensi lebih rendah dari perkiraan semula. Goldman juga menyoroti ancaman harga BBM olahan yang tinggi serta potensi kelangkaan produk energi global.

Jika melihat pola harga dua pekan terakhir, volatilitas bergerak sangat agresif. Pada 13 April Brent sempat di US$99,36, turun ke US$90,38 pada 17 April, lalu terbang ke atas US$107 pagi ini. WTI pun sempat menyentuh US$83,85 lalu bangkit ke hampir US$96.

CNBC Indonesia

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|