Brent Naik ke US$104, Pasokan Global Kembali Bikin Cemas

9 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia — Harga minyak dunia kembali menanjak pada awal perdagangan pekan ini. Pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran gagal mencapai kesepakatan damai terbaru yang diajukan Washington. Jalur Selat Hormuz pun masih belum sepenuhnya terbuka, membuat pasokan energi global tetap ketat.

Mengacu data Refinitiv per Senin (11/5/2026) pukul 08.30 WIB, harga minyak Brent kontrak Juli (LCOc1) tercatat US$104,59 per barel, melonjak 3,26% dibanding penutupan Jumat sebelumnya di US$101,29 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI/CLc1) naik 3,68% ke posisi US$98,93 per barel dari sebelumnya US$95,42 per barel.

Kenaikan ini memperpanjang volatilitas ekstrem yang sudah terjadi sejak akhir April. Dalam dua pekan terakhir, Brent sempat terbang ke US$118,03 per barel pada 29 April sebelum anjlok ke area US$100 akibat munculnya harapan gencatan senjata AS-Iran. Namun reli kembali pecah setelah proposal perdamaian terbaru gagal mencapai kata sepakat.

Reuters via Refinitiv melaporkan, negosiasi terbaru antara Washington dan Teheran belum menghasilkan kesepakatan, sementara Selat Hormuz masih tertutup sebagian. Jalur tersebut sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu. Kondisi itu membuat pasar kembali menghitung potensi gangguan suplai global.

Sebelumnya, harga minyak sempat jatuh selama tiga hari beruntun pekan lalu setelah muncul laporan bahwa AS dan Iran semakin dekat menuju kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz secara penuh. Namun optimisme itu buyar setelah Iran menuding AS melanggar gencatan senjata, sementara Washington menyebut serangan terbaru sebagai aksi balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan laut AS di sekitar selat.

Militer Iran bahkan mengeklaim serangan AS menyasar kapal tanker minyak Iran dan wilayah sipil. Meski Presiden AS Donald Trump mengatakan gencatan senjata masih berlaku, baku tembak terbaru membuat pasar kembali panik terhadap risiko distribusi energi global.

Dari sisi teknikal harga, lonjakan Senin pagi membuat Brent kini sudah pulih lebih dari 4% dibanding posisi Jumat lalu. Namun secara mingguan volatilitasnya masih sangat lebar. Dalam rentang 28 April hingga 11 Mei, Brent bergerak dari US$111,26 per barel, sempat menyentuh US$118,03, lalu jatuh ke US$100 sebelum kembali melesat di atas US$104. Pola serupa terjadi di WTI yang bergerak dari US$99,93 menuju US$106,88, kemudian turun ke US$94-an sebelum rebound mendekati US$99 per barel.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|