Jumali Selasa, 28 Juli 2026 12:17 WIB

Kecerdasan emosional. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Selama bertahun-tahun, kecerdasan sering dikaitkan dengan kemampuan berpikir cepat, nilai akademis tinggi, atau penguasaan ilmu pengetahuan yang luas. Namun, perkembangan riset psikologi modern menunjukkan bahwa kreativitas dan kemampuan menghasilkan gagasan baru tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Ada faktor lain yang berperan besar, yaitu kepribadian.
Salah satu karakter yang paling sering dikaitkan dengan kreativitas adalah keterbukaan terhadap pengalaman atau openness to experience. Dalam teori kepribadian Big Five, sifat ini menggambarkan sejauh mana seseorang terbuka terhadap ide baru, pengalaman berbeda, perspektif yang tidak biasa, serta rasa ingin tahu yang tinggi terhadap dunia di sekitarnya.
Menurut psikolog Amerika Mark Travers, individu dengan tingkat keterbukaan yang tinggi memiliki kecenderungan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan dan tidak terpaku pada satu cara pandang. Mereka lebih mudah menemukan hubungan yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang, sehingga sering menghasilkan ide-ide segar dan inovatif.
Kemampuan tersebut membuat mereka unggul dalam menghadapi persoalan yang kompleks. Ketika sebagian orang berusaha segera menemukan jawaban yang pasti, individu dengan keterbukaan tinggi justru nyaman berada dalam ketidakpastian. Mereka tidak terburu-buru mengambil kesimpulan dan lebih bersedia mengeksplorasi berbagai kemungkinan sebelum menentukan solusi terbaik.
Berbagai penelitian psikologi mendukung pandangan tersebut. Dari lima dimensi utama kepribadian dalam model Big Five, keterbukaan terhadap pengalaman secara konsisten menjadi faktor yang paling kuat kaitannya dengan kreativitas dan pencapaian inovatif di berbagai bidang.
Temuan itu diperkuat oleh meta-analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences pada 2023. Penelitian yang menggabungkan data dari 63 studi dan melibatkan lebih dari 24.000 peserta tersebut menemukan bahwa individu dengan tingkat keterbukaan tinggi cenderung lebih tertarik pada ide-ide kompleks, pengalaman baru, serta konsep-konsep yang tidak mudah dikategorikan.
Karakter tersebut membuat mereka lebih mampu berpikir lintas disiplin. Mereka tidak melihat pengetahuan sebagai kotak-kotak yang terpisah, melainkan sebagai kumpulan informasi yang bisa saling terhubung dan melahirkan wawasan baru.
Contoh sederhana dapat ditemukan pada seorang insinyur yang mempelajari musik klasik di luar pekerjaannya. Sekilas, kedua bidang tersebut tampak tidak berhubungan. Namun bagi orang dengan keterbukaan tinggi, pola harmoni dalam musik dapat memberikan inspirasi untuk memahami persoalan teknis yang sedang dihadapi dalam bidang rekayasa atau pemrosesan sinyal.
Cara berpikir semacam ini sering menjadi sumber inovasi besar. Banyak penemuan dan gagasan baru lahir ketika seseorang berhasil menghubungkan dua bidang yang sebelumnya dianggap tidak berkaitan.
Meski demikian, para ahli menilai keterbukaan terhadap pengalaman saja tidak cukup untuk menghasilkan kecerdasan integratif yang sesungguhnya. Kemampuan tersebut juga membutuhkan ketekunan, disiplin, dan kesabaran untuk mendalami lebih dari satu bidang pengetahuan secara serius.
Seseorang yang memiliki rasa ingin tahu tinggi mungkin tertarik mempelajari banyak hal. Namun tanpa usaha mendalam untuk memahami bidang-bidang tersebut, rasa ingin tahu itu belum tentu berkembang menjadi kreativitas yang menghasilkan inovasi nyata.
Sebaliknya, individu yang mampu mengombinasikan rasa ingin tahu dengan pembelajaran yang konsisten berpotensi mengembangkan apa yang disebut sebagai kecerdasan integratif. Mereka tidak hanya mengumpulkan pengetahuan, tetapi juga mampu menghubungkan berbagai wawasan menjadi gagasan baru yang bermanfaat.
Dalam dunia kerja modern yang semakin kompleks, kemampuan semacam ini menjadi semakin penting. Perusahaan, lembaga pendidikan, hingga organisasi sosial kini membutuhkan individu yang mampu melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi yang tidak terpikirkan sebelumnya.
Karena itu, kreativitas bukan semata-mata soal bakat atau tingkat IQ. Psikologi menunjukkan bahwa kemauan untuk terbuka terhadap pengalaman baru, belajar dari berbagai bidang, dan mempertahankan rasa ingin tahu sepanjang hidup dapat menjadi fondasi penting bagi lahirnya ide-ide besar dan inovasi yang membawa perubahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































