Harianjogja.com, SLEMAN— Perjalanan sejauh 520 kilometer (km) ditempuh Muhammad Riana, 30, untuk menghadiri Cherrypop, festival musik dan budaya tahunan di Yogyakarta yang menjadi ruang bagi kreativitas subkultur anak muda, musisi lintas genre, perupa, pembuat film, hingga pegiat kuliner.
Datang bersama seorang teman, Riana menjajal empat stage Cherrypop, yakni Nanaba, Yayapa, Cherry, dan Chilli. Namun, ada satu penampilan yang secara khusus membawanya menempuh perjalanan panjang tersebut, yakni setlist Daur Baur dari Pandai Besi.
Riana hadir dengan celana jeans panjang dan kaos putih bertuliskan Rimpang, album dari grup musik Efek Rumah Kaca (ERK). Personel ERK kemudian membentuk proyek musik Pandai Besi atau yang dikenal sebagai band mutasi.
Pada Minggu (23/8/2026) sore, setlist Daur Baur dimainkan di Nanaba Stage. Lagu-lagu lama ERK dibawakan dengan aransemen baru, berpadu dengan suasana kawasan Candi Prambanan pada sore hari.
Bagi Riana, penampilan Pandai Besi tidak berhenti sebagai pertunjukan musik. Lirik-lirik yang menyentil, tajam, dan reflektif justru membawanya kembali pada pengalaman personal yang telah ia jalani sejak kecil.
Lirik "Desember" Membawa Riana pada Penantian
Salah satu lagu yang memiliki arti khusus bagi Riana adalah “Desember”. Penggalan lirik mengenai pelangi yang menanti dan hujan yang reda membuatnya merasakan suasana yang gloomy sekaligus optimistis ketika mendengarnya secara langsung.
“Saya sebenarnya hidup dari kecil ditinggal keluarga,” kata Riana ditemui di Venue Cherrypop, Prambanan, Sleman, Minggu (24/8/2026).
Pengalaman masa kecil tersebut membuat lirik mengenai penantian dan harapan terasa dekat dengannya. Ia berharap suatu hari dapat menemukan seseorang yang mampu memberikan ketenangan dalam hidupnya.
“Saya berharap ada yang menerangi sisi gelap ini, setia menanti hujan reda. Semoga saya menemukan seseorang yang bisa membuat saya tenang seperti hujan reda,” katanya.
"Jangan Bakar Buku" dan Persoalan Literasi
Selain “Desember”, Riana menyukai lagu “Jangan Bakar Buku”. Menurutnya, lagu tersebut tetap kontekstual dan melintasi zaman karena menggambarkan bagaimana rezim yang berkuasa dapat membunuh pengetahuan melalui pelarangan dan sensor.
“Yang saya tangkap di lagu Jangan Bakar Buku itu situasi di mana pemerintahan memotong anggaran untuk pengembangan perpustakaan [literasi],” ucapnya.
Riana melihat persoalan tersebut ironis ketika Indonesia masih menghadapi persoalan rendahnya minat baca. Menurutnya, akses terhadap buku, khususnya bagi masyarakat di daerah pedalaman, tetap perlu mendapatkan perhatian.
Ia bahkan menyebut donasi buku di wilayah pedalaman juga dihentikan. Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan bagaimana Indonesia dapat memperbaiki indeks literasi jika kegiatan pengembangan literasi masih minim.
Karena itu, Riana berharap pemerintah kembali meningkatkan perhatian terhadap perpustakaan dan distribusi buku. Menurutnya, keberadaan buku serta akses terhadap bahan bacaan penting untuk mendukung peningkatan literasi.
“Saya harap ke depannya anggaran untuk perpustakaan dan distribusi buku itu bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Cherrypop Membawa Memori Orde Baru dengan Cara Berbeda
Perjalanan Riana ke Cherrypop juga bersinggungan dengan gagasan besar yang dibawa festival tersebut. Pada penyelenggaraan kelima, Cherrypop mengusung tema “Repelita Musik”, kependekan dari Rekreasi, Peristiwa, Lima Tahun Musik.
Creative Director Cherrypop, Arsita Pinandita, mengatakan narasi perayaan lima tahun kali ini cenderung riang dan berhura-hura. Meski demikian, Cherrypop tetap menyisipkan pesan reflektif mengenai situasi bangsa melalui festival musik tersebut.
Ditemui di backstage, Pinandita menceritakan bahwa situasi negara saat ini sama seperti ketika Orde Baru. Ia tidak menjelaskan secara detail kesamaan tersebut, tetapi mengajak masyarakat untuk tidak takut terhadap rezim otoriter di setiap zaman.
Cherrypop memilih pendekatan berbeda dalam mengajak masyarakat mengingat kembali sejarah kelam Orde Baru. Memori tersebut tidak disajikan dalam narasi yang menakutkan, melainkan dikemas melalui tema, musik, dan visual yang lebih menarik serta dekat dengan anak muda.
Penggunaan narasi Orde Baru itu bukan sekadar pilihan artistik. Tema tersebut menjadi cara Cherrypop merespons kondisi Indonesia sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali memori masa lalu.
"Sebetulnya bukan kami yang merespons secara langsung. Jadi, pemilihan nama saja sebenarnya kami sudah merespons," kata Pinandita.
Menurutnya, sejumlah tema Cherrypop sebelumnya, seperti Gelanggang dan Swasembada Musik, hingga tema terbaru Repelita, sengaja mengambil istilah yang berkaitan dengan masa lalu Indonesia.
Cherrypop tidak ingin memosisikan memori Orde Baru sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, memori tersebut dikemas dengan pendekatan yang menarik agar dapat diterima publik yang lebih luas, khususnya anak muda.
"Kami ingin mengembalikan memori masa lalu tetapi dengan cara yang menarik," katanya.
Musik Menjadi Ruang Membicarakan Persoalan Indonesia
Pendekatan tersebut juga terlihat dari pemilihan musisi yang tampil. Cherrypop memberikan ruang kepada musisi yang dinilai memiliki narasi kuat mengenai persoalan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.
Pinandita mencontohkan Pandai Besi yang memiliki karya dengan narasi mengenai Munir dan ketimpangan ekonomi di Indonesia. Sementara Majelis Lidah Berduri membawa narasi mengenai posisi militer dalam kehidupan ekonomi dan masyarakat.
Menurutnya, musisi dengan narasi semacam itu sengaja diberi ruang agar dapat menyampaikan gagasannya kepada publik yang lebih luas.
"Hampir semua band mengangkat narasi-narasi itu. Dan itu yang selalu kita beri ruang, kami pilih untuk mereka bisa berkomunikasi ke publik yang lebih luas," ucapnya.
Cherrypop, lanjut Pinandita, tidak hanya berbicara mengenai musik populer. Festival tersebut juga ingin membuka ruang pembicaraan mengenai posisi anak muda di tengah perubahan yang berlangsung saat ini.
"Repelita Musik" Melihat Lima Tahun ke Belakang dan ke Depan
Gagasan mengenai memori masa lalu kemudian diterjemahkan dalam konsep Repelita yang menjadi tema Cherrypop tahun ini. Arsita menjelaskan Repelita dalam konteks festival bukan sekadar merujuk pada program pembangunan lima tahun.
Tema tersebut menjadi cara untuk melakukan "rekreasi" terhadap peristiwa lima tahun terakhir sekaligus membayangkan lima tahun mendatang.
"Rekreasi untuk melihat Cherrypop dari satu sampai lima dan rekreasi bagaimana membayangkan enam sampai sepuluh ke depan," ujarnya.
Konsep tersebut tidak hanya hadir melalui musik. Cherrypop juga menggabungkannya dengan pendekatan seni visual dengan menggandeng visual artist Andri Kurniawan atau Boy pada tahun ini.
Pemilihan visual artist dilakukan berdasarkan tema yang hendak dibangun dalam setiap penyelenggaraan Cherrypop.
Selain menyampaikan isu melalui musik dan visual, Cherrypop tahun ini juga membuka sejumlah kanal donasi. Pinandita menyebut penggalangan dana dilakukan melalui lelang motor, penjualan merchandise, dan sejumlah penjualan lainnya.
Keuntungan dari kegiatan tersebut akan disalurkan ke Nusa Tenggara Timur yang baru saja dihantam lindu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































