China-Rusia Kompak Bela Iran, 'Kubur' Ambisi Trump di Selat Hormuz

7 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - China dan Rusia secara resmi menggunakan hak veto mereka untuk menolak resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah ini diambil untuk membela Iran dengan menyebut rancangan resolusi untuk melindungi pelayaran di Selat Hormuz tersebut sangat bias terhadap Teheran.

Mengutip Reuters, China dan Rusia menggunakan hak veto tersebut meskipun Bahrain sebagai pemrakarsa telah memperlemah draf resolusinya setelah sebelumnya ditentang oleh Beijing. Dalam draf final yang dibawa ke meja pemungutan suara pada Selasa, (07/04/2026), poin mengenai otorisasi penggunaan kekuatan militer dan referensi eksplisit mengenai penegakan hukum yang mengikat telah dihapus.

Utusan PBB untuk China, Fu Cong, menegaskan bahwa mengadopsi draf semacam itu di saat Amerika Serikat (AS) tengah mengancam kelangsungan hidup suatu peradaban akan mengirimkan pesan yang salah. Senada dengan hal tersebut, Kementerian Luar Negeri China menekankan bahwa Dewan Keamanan seharusnya bertindak untuk meredakan ketegangan dan menghentikan konflik, bukan justru memberikan legitimasi pada tindakan perang.

"Dewan Keamanan tidak boleh digunakan untuk mendukung tindakan perang yang ilegal, apalagi menambah bahan bakar ke dalam api," kata juru bicara kementerian, Mao Ning, saat ditanya mengenai resolusi PBB tersebut pada pengarahan media.

Rusia pun mengambil posisi serupa dengan mengusulkan resolusi alternatif yang berfokus pada situasi Timur Tengah secara menyeluruh, termasuk keamanan maritim. Duta Besar Rusia untuk PBB, Vasily Nebenzya, menyatakan bahwa draf milik mereka lebih menekankan pada jalur diplomasi dan penurunan ketegangan.

"Rusia dan China mengusulkan resolusi alternatif mengenai situasi di Timur Tengah, termasuk keamanan maritim, yang mendesak deeskalasi permusuhan yang sedang berlangsung dan kembali ke jalur diplomasi," ujar Nebenzya merujuk pada draf yang dilihat oleh Reuters tersebut.

Langkah kedua negara besar ini mendapat apresiasi tinggi dari Teheran. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, memuji keputusan China dan Rusia yang dianggap telah menyelamatkan martabat Dewan Keamanan dari kepentingan politik pihak tertentu.

"Tindakan mereka hari ini mencegah Dewan Keamanan disalahgunakan untuk melegitimasi agresi," ungkap Iravani.

Iravani juga menginformasikan bahwa utusan pribadi Sekretaris Jenderal PBB, Jean Arnault, sedang dalam perjalanan menuju Teheran untuk melakukan konsultasi. Arnault yang berangkat pada hari Senin diharapkan dapat mendorong diakhirinya perang, meskipun rencana perjalanannya sangat bergantung pada faktor keamanan dan logistik di lapangan.

Di sisi lain, kegagalan resolusi ini memicu kemarahan besar dari pihak Washington. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, mengutuk keras veto tersebut dan menyebutnya sebagai titik terendah baru karena membiarkan Iran menyandera ekonomi global melalui penutupan Selat Hormuz.

"No satu pun boleh menoleransi itu. Mereka menyandera ekonomi global dengan todongan senjata. Namun hari ini, Rusia dan China menoleransinya. Mereka memihak rezim yang berupaya mengintimidasi Teluk agar tunduk, bahkan saat rezim itu menganiaya rakyatnya sendiri," tegas Waltz.

Waltz menambahkan bahwa hingga Iran memilih untuk membuka kembali selat dan mencari perdamaian, AS menyerukan kepada negara-negara yang bertanggung jawab untuk bergabung dalam mengamankan jalur pelayaran tersebut. Hal ini menjadi krusial mengingat penutupan selat telah menghambat distribusi bantuan kemanusiaan ke Sudan hingga Gaza.

Kondisi ini semakin diperparah dengan ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyebut "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran tidak memenuhi ultimatum untuk membuka Selat Hormuz pada Selasa malam waktu Washington. Konflik yang telah berjalan lima minggu ini pun telah memicu lonjakan harga minyak dunia setelah sebelumnya AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada akhir Februari lalu.

Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Al Zayani, hanya bisa meratapi kegagalan draf yang diajukannya setelah 11 anggota mendukung, namun kandas oleh veto dua anggota tetap.

"Rancangan resolusi tersebut tidak diadopsi karena adanya suara negatif dari anggota tetap Dewan Keamanan," kata Zayani menutup persidangan.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|