Jakarta, CNBC Indonesia - Irak dan Pakistan dilaporkan telah mencapai kesepakatan rahasia dengan Iran untuk mengirimkan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) melalui Teluk Persia. Langkah ini menjadi bukti nyata kemampuan Teheran dalam mengendalikan arus energi global di tengah blokade ketat Amerika Serikat dan konflik yang masih membara dengan Israel di Selat Hormuz.
Mengutip Reuters, perang antara AS-Israel dengan Iran telah memangkas ekspor energi dari kawasan yang biasanya memasok 20% kebutuhan minyak mentah dan LNG dunia tersebut. Meskipun awalnya Iran berupaya menghentikan seluruh lalu lintas di selat tersebut, posisi Teheran kini mulai bergeser menjadi pengendali akses sepenuhnya, sebagaimana disampaikan oleh pengamat dari Oxford Institute for Energy Studies, Claudio Steuer.
"Iran telah bergeser dari memblokir Hormuz menjadi mengendalikan akses ke sana. Hormuz bukan lagi rute transit netral, melainkan koridor yang dikendalikan," kata Steuer.
Irak menjadi salah satu produsen yang paling terdampak oleh penutupan selat ini karena hampir seluruh ekspor minyak mentahnya bergantung pada jalur tersebut. Di sisi lain, Pakistan yang mencoba menjadi mediator dalam konflik ini juga menghadapi lonjakan biaya bahan bakar yang mencekik akibat ketergantungan tinggi pada impor energi dari Teluk.
Dalam kesepakatan antara Baghdad dan Teheran yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, Irak berhasil mengamankan jalur aman bagi dua kapal tanker minyak raksasa (VLCC) yang masing-masing membawa sekitar 2 juta barel minyak mentah pada Minggu (10/5/2026).
Saat ini, pemerintah Irak tengah berupaya mendapatkan persetujuan Iran untuk pengiriman berikutnya guna menyelamatkan pendapatan negara yang 95% berasal dari minyak.
"Irak adalah sekutu dekat Iran, dan setiap penurunan ekonomi Irak juga akan merusak kepentingan ekonomi Iran di negara tersebut," ujar seorang pejabat kementerian perminyakan Irak yang mengetahui detail kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Pakistan juga mulai menerima pasokan energi melalui jalur yang sama. Dua kapal tanker yang memuat LNG asal Qatar dilaporkan sedang menuju Pakistan menyusul kesepakatan bilateral terpisah antara Islamabad dan Teheran untuk memenuhi lonjakan permintaan listrik musim panas yang sangat tinggi di negara tersebut.
Berdasarkan keterangan sumber industri, Qatar secara teknis tidak terlibat langsung dalam kesepakatan bilateral tersebut, namun pihak Doha telah menginformasikan rencana pengiriman ini kepada Amerika Serikat sebelumnya. Menariknya, sumber tersebut juga menyatakan bahwa baik Irak maupun Pakistan tidak melakukan pembayaran langsung kepada Iran atau Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terkait izin lintas ini.
Keberhasilan Irak dan Pakistan ini memicu minat negara-negara lain, terutama dari ekonomi Asia, untuk menjajaki kesepakatan serupa demi menghindari gangguan pasokan. Namun, Saul Kavonic selaku kepala riset di konsultan MST Marquee memperingatkan bahwa fenomena ini bisa memberikan legitimasi jangka panjang bagi Iran atas wilayah perairan internasional tersebut.
"Semakin banyak pemerintah yang bersedia membuat kesepakatan dengan Iran untuk akses pelayaran, hal itu berisiko menormalisasi gagasan bahwa Iran akan mengendalikan Selat Hormuz secara permanen," kata Kavonic.
Data pelayaran menunjukkan bahwa lalu lintas di Hormuz saat ini hanya tersisa 5% dari volume normal sebelum perang yang mencapai 3.000 kapal per bulan. Kondisi ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga lebih dari 50% sejak akhir Februari, sementara harga LNG di Eropa dan Asia melonjak antara 35% hingga 50%.
Iran sendiri secara tegas menyatakan keinginan untuk tetap memegang kendali atas selat tersebut bahkan setelah perang berakhir, dengan mengajukan syarat ganti rugi dan pencabutan sanksi. Namun, di lapangan, Teheran sudah mulai memformalkan kendalinya dengan meminta Irak menyerahkan dokumentasi lengkap setiap tanker yang akan melintas di bawah pengawasan angkatan laut mereka.
"IRGC terkadang mengubah aturan main di tengah jalan, sehingga sulit untuk menjaga semuanya tetap pada jalurnya, tetapi kami terus mengupayakannya," ungkap seorang sumber dari Pakistan mengenai proses negosiasi yang terkadang mengalami hambatan.
(tps/luc)
Addsource on Google

















































