Darurat Kecelakaan di Sleman, Layanan PSC 119 Tangani 1.228 Kasus

2 hours ago 1

Darurat Kecelakaan di Sleman, Layanan PSC 119 Tangani 1.228 Kasus Ilustrasi. - Freepik

Harianjogja.com, SLEMAN—Kasus kecelakaan lalu lintas di Sleman melonjak tajam. Sepanjang 2025, PSC 119 Sleman menangani 1.228 kejadian, angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir.

Lonjakan ini menunjukkan meningkatnya kebutuhan layanan darurat sekaligus menjadi sinyal tingginya risiko kecelakaan di jalan raya wilayah Sleman.

Data Dinas Kesehatan Sleman mencatat tren kenaikan terjadi secara bertahap sejak 2017. Saat itu hanya ada 108 kasus, lalu naik menjadi 233 kasus pada 2018 dan 360 kasus pada 2019.

Jumlah tersebut terus meningkat menjadi 398 kasus pada 2020, sebelum sempat menurun ke 302 kasus pada 2021. Namun, tren kembali melonjak sejak 2022 dengan 464 kasus.

Kenaikan signifikan terjadi dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 jumlahnya mencapai 735 kasus, meningkat lagi menjadi 988 kasus pada 2024, hingga akhirnya menembus 1.228 kasus pada 2025.

Kepala UPTD PSC 119 SES Dinas Kesehatan Sleman, Dharmawan Lingga Artama, menyebut lonjakan ini mencerminkan tingginya kejadian kecelakaan sekaligus meningkatnya kebutuhan respons cepat layanan kegawatdaruratan.

PSC 119 berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan korban kecelakaan, mulai dari respons di lokasi hingga rujukan ke fasilitas kesehatan.

Namun di balik peningkatan layanan, tantangan juga muncul. Sekitar 40% panggilan yang masuk tercatat tidak valid atau palsu, yang berpotensi menghambat respons terhadap kasus darurat sebenarnya.

Kasubag Tata Usaha UPTD PSC SES Sleman, Sudiyo, menjelaskan setiap laporan yang masuk akan melalui proses triase awal. Jika termasuk kegawatdaruratan, tim langsung diterjunkan dengan ambulans untuk penanganan di lokasi.

Selanjutnya korban akan ditangani di dalam ambulans dan dirujuk ke rumah sakit sesuai kondisi medis. Setelah itu, tim kembali ke base untuk bersiaga menghadapi laporan berikutnya.

Selain penanganan langsung, PSC 119 juga memberikan panduan pertolongan pertama melalui call center, pemantauan kondisi pasien, hingga pelacakan ambulans selama perjalanan.

“Untuk mencapai response time agar penanganan bisa langsung dilakukan, tim bertugas dengan sistem shift jaga. Kami juga berjejaring dengan komunitas yang punya ambulans agar penanganan bisa cepat,” kata Sudiyo.

Dalam praktiknya, terkadang lebih dari satu ambulans datang ke lokasi kejadian. Jika hal itu terjadi, pemilihan armada didasarkan pada kualitas fasilitas yang tersedia.

Dengan tren kecelakaan yang terus meningkat, penguatan kapasitas layanan darurat menjadi kebutuhan mendesak, termasuk penambahan armada dan personel, serta peningkatan kesadaran masyarakat agar menggunakan layanan secara tepat sehingga respons terhadap korban kecelakaan bisa lebih optimal.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|