Data Berbicara, Perang AS-Iran Picu Krisis Energi Terburuk Dunia

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, ditambah penutupan Selat Hormuz, memicu gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah dari sisi kehilangan produksi harian. Hal ini terungkap dari perhitungan Reuters berdasarkan data Badan Energi Internasional (IEA) dan Departemen Energi AS.

IEA bahkan menyebut krisis ini sebagai yang terburuk, terutama jika digabungkan dengan dampak lanjutan krisis gas Eropa akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

"Ini merupakan krisis energi terburuk yang pernah dihadapi dunia," tulis IEA dalam laporannya, dikutip Rabu (22/4/2026).

Berbeda dengan guncangan energi masa lalu, konflik Iran saat ini tidak hanya menghantam minyak mentah, tetapi juga gas alam, bahan bakar olahan, hingga pupuk. Kondisi ini mencerminkan kerentanan baru akibat meningkatnya permintaan energi global dan semakin kompleksnya rantai perdagangan.

Jika krisis 1970-an dipicu embargo yang sengaja menekan pasokan minyak, kini guncangan terjadi serentak di seluruh rantai energi, mulai dari minyak hingga gas dan produk turunannya.

IEA mencatat puncak kehilangan pasokan dalam krisis saat ini mencapai lebih dari 12 juta barel per hari, setara sekitar 11,5% dari permintaan minyak global yang diperkirakan mencapai 104,3 juta barel per hari tahun ini.

Angka tersebut jauh melampaui krisis sebelumnya, seperti embargo minyak Arab 1973-1974 sebesar 4,5 juta barel per hari, Revolusi Iran 1978-1979 sebesar 5,6 juta barel per hari, serta Perang Teluk 1991 sebesar 4,3 juta barel per hari.

Tak hanya minyak, konflik ini juga menghentikan sekitar seperlima produksi gas alam cair (LNG) global dari Qatar. Situasi ini memperburuk tekanan pasar energi dunia yang kini jauh lebih bergantung pada gas dibandingkan beberapa dekade lalu. Gangguan juga merembet ke sektor hilir, di mana produksi bahan bakar dari kilang-kilang di kawasan Teluk terganggu, memicu kelangkaan bahan bakar jet dan diesel di berbagai wilayah.

Dalam 52 hari konflik, Reuters memperkirakan total kehilangan pasokan mencapai sekitar 624 juta barel. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah, bahkan jika konflik mereda dalam waktu dekat, karena pemulihan pasokan energi biasanya membutuhkan waktu panjang.

Meski demikian, dalam catatan sejarah, Revolusi Iran 1978-1979 masih mencatat dampak kumulatif lebih besar. Departemen Energi AS mencatat penurunan produksi rata-rata 3,9 juta barel per hari selama periode 1978 hingga 1981, atau setara sekitar 4,27 miliar barel.

Jurnalis energi Ian Seymour menggambarkan penurunan tersebut sebagai salah satu yang paling signifikan dalam sejarah industri minyak. "Iran memproduksi sekitar 6 juta barel per hari pada akhir 1978, namun turun menjadi rata-rata 3,1 juta barel per hari pada 1979," ujarnya.

Berbeda dengan krisis sebelumnya, negara-negara produsen dengan kapasitas cadangan seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab kali ini tidak mampu menutup kekurangan pasokan. Hal ini karena mereka turut terdampak oleh terganggunya jalur distribusi melalui Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Dampak krisis saat ini juga terasa berbeda secara geografis. Jika embargo minyak Arab 1973 sangat menghantam Amerika Serikat hingga memicu antrean panjang di SPBU, kali ini tekanan lebih dulu dirasakan negara-negara di Asia dan Afrika yang mengalami kekurangan pasokan bahan bakar.

Sebagai perbandingan, Perang Teluk 1991 menyebabkan kehilangan pasokan sekitar 516 juta barel, lebih kecil dibanding krisis saat ini, sementara gangguan akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 relatif terbatas dengan penurunan produksi sekitar 1 juta barel per hari.

(tfa/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Ekonomi | Asset | Lokal | Tech|